Search This Blog

Showing posts with label Kumpulan Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Cerpen. Show all posts

Sunday, April 6, 2014

Mata yang Enak Dipandang - Ahmad Tohari

Resensi Buku Mata yang Enak Dipandang - Ahmad Tohari
KARENA APA ADANYA SAYA MENYUKAINYA
Rien DJ


Judul: Mata yang Enak Dipandang
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia

Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal: 216 halaman
Terbit: Desember 2013
Cover: Softcover
ISBN: 978-602-03-0045-0

Saat Dion menawarkan buntelan di grup BBI, bertepatan saya membuka FB, sehingga dengan cepat saya dapat memilih buku ini. Jaminan nama pengarangnya membuat saya tak ragu, apalagi covernya yang kuning terang sangat tertangkap mata. Dan tentu saja judulnya yang biasa, berbentuk kalimat utuh, tak berima, dan menurut saya kurang puitis. Tetapi pada dasarnya Ahmad Tohari memang tidak pernah (setahu saya) menulis dengan kata-kata puitis, meliuk-liuk, sebelum sampai pada maksudnya. Ahmad Tohari itu apa adanya, dan karena itulah saya menyukai karya-karyanya.

Kisah pertama yang diberi judul (1) Mata yang Enak Dipandang seketika membuat hati saya tersinggung. Sungguh. Bayangkan saja bagaimana melalui tokoh Marta yang buta, Ahmad Tohari mempermalukan saya, mempermalukan mata saya yang berharga ini sebagai mata yang tak enak dipandang, karena beberapa kali saat naik kereta api merasa lebih nyaman dan berpihak pada peraturan yang melarang para pedagang, pengamen, apalagi pengemis "seperti Marta" berlalu-lalang di lorong kereta. Mata yang tak peduli, karena berada di kereta yang nyaman dan bersih, pada sosok-sosok Marta, yang menyipit saat melihat mereka.

(2) Bila Jebris Ada di Rumah Kami bercerita tentang Jebris, pelacur, yang tinggal di lahan yang sama dengan Ratib, seorang ustadz kampung. Sama seperti Sar, istri Ratib, saya juga deg-degan untuk mengetahui bagaimana pendapat dan sikap Ratib dengan keberadaan Jebris. Cara Ratib memandang persoalan ini menjadi pelajaran buat kita.

Cerpen keempat membuat saya terpaksa mengeluarkan satu kata yang kami tabukan di rumah, yaitu "Gillaaaaaa!" Berkisah tentang orang-orang yang datang ke rumah kita dengan maksud meminta sumbangan, entah untuk yayasan penderita cacat atau menjual barang-barang yang "ngaku"nya hasil buatan para difable. Mereka memang "mungkin" penipu. Tetapi (3) Penipu yang Keempat, penipu yang jelas lebih pandai itu ternyata adalah saya, bisa juga kamu, atau dia! Ahmad Tohari benar-benar membuat saya terperangah sekali lagi karena "kecaman"nya yang dengan semena-mena menelanjangi saya. Gila!

Pada kisah (4) Daruan, pembaca akan tahu kisah seorang penulis yang puluhan karyanya tak juga tembus penerbit. Hingga suatu hari, atas kebaikan sahabatnya, Muji, Daruan akhirnya dapat melihat karyanya dalam bentuk buku. Penulis mana yang tak sumringah saat melihat karyanya akhirnya dibaca orang. Dan tentu saja seiring dengan itu, harapan akan masa depan yang cerah, tak lagi nebeng hidup pada istri akan segera terjadi. Itu mimpi dan harapan Daruan, dan tentu saja Daruan-Daruan yang lain. Saya dapat merasakan euforia Daruan saat menerima bukunya, serupa menimang bayi yang telah dikandungnya berbulan-bulan sengan susah payah, tak jarang harus begadang, lupa mandi, lupa makan, dan akhirnya lahir. Namun semua euforia itu pupus seketika. Harga diri Daruan yang hancur membuat saya harus selalu ingat untuk bernapas. Bukan saja karena bukunya tidak dijual di toko buku bergengsi, tetapi juga ternyata masih utuh di tangan pedagang asongan, menjadi efek paling menyakitkan dari sebuah perjuangan panjang seorang Daruan (penulis).

Lagi-lagi Ahmad Tohari bercerita tentang kekalahan seorang laki-laki (suami). Dalam (5) Warung Penajem, Kartawi, petani dengan secuil lahan, itu mendapat imbas dari obsesi istrinya untuk menjadi orang kaya. Di cerpen ini, saya serasa ikut menjadi pelanggan Jum dan bergosip tentangnya, saking dekatnya tokoh cerita itu dalam kehidupan sehari-hari.

(6) Paman Doblo Merobek Layang-Layang, padahal dia adalah ikon seorang pahlawan di desanya. Jika mereka mengalami kesulitan maka Paman Doblo akan segera turun tangan dengan senyum yang selalu menghias wajahnya. Sayangnya, kalimat "Untung ada Paman Doblo", itu kini harus ditelan dengan susah dan sedih, semenjak Paman Doblo diangkat sebagai satpam di kilang minyak yang baru dibangun.

Ada sebuah kisah tentang seorang yang telah membunuh 99 orang. Dia pun bertobat dan mencari seseorang yang dapat menunjukkan jalan tobatnya. Namun, orang ke-100 ini tidak seperti yang dia harapkan sehingga dibunuhlah orang ini, dan genaplah dia membunuh 100 orang. Dengan penuh kesedihan, orang ini berjalan untuk menemukan seseorang yang dapat menuntunnya pada sebuah pertobatan. Sayangnya, sebelum dia sampai (bertemu) dengan orang alim tersebut, dia meninggal. Saat itulah malaikat rahmat dan malaikat azab berebut. (7) Kang Saripin Ingin Dikebiri, memiliki pesan yang sama. Lelaki paling konyol dan nekat yang mencari jalan keluar atas nafsunya yang tak dapat ditundukkan. Pesannya adalah "jangan sok menjadi panitia penghitung amal!"

Kisah selanjutnya adalah kisah tentang Kasim yang berusaha menyeberang jalan raya untuk menuju secuil sawahnya yang menunggu dipanen. Namun, arus mudik yang padat membuat Kasim harus menahan kesabaran. Berjam-jam dia menunggu kesempatan dari para pemudik yang hendak bersilaturahim dan bermaaf-maafan, untuk menyeberang. Bayangan akan burung pipit yang rakus menuai duluan, membuat Kasim berani melangkah dengan gagah menyeberang jalan raya. Untuk cerpen ini, sayang endingnya kurang menyentak. Mungkin karena terlalu berat muatan kritiknya, sehingga ketika (8) Akhirnya Kasim Menyeberang Jalan jadi terasa kurang menyentuh.

Pada (9) Sayur Bleketupuk, saya merasa mendapat pesan penting dari Ahmad Tohari melalui prasangka Parsih pada suaminya, Kang Dalbun. Janji Kang Dalbun untuk mengajak anak istrinya naik jaran undar, menjadi awal malapetaka di rumah mereka. Tragis.

Setelah kisah tragis tersebab ketidaksabaran dan prasangka Parsih, pada (10) Rusmi Ingin Pulang, sayangnya terasa datar. Ketakutan Kang Hamim akan kepulangan Rusmi, anaknya, yang menurut desas-desus menjadi pelacur di kota, membuatnya harus memastikan pada Pak RT bahwa anaknya diterima di kampung ini. Dan setelah itu memang tak terjadi apa-apa, selain kedatangan Rusmi yang disusul oleh lelaki baik dan tampak kaya.

(11) Dawir, Turah, dan Totol, tiga nama yang "aneh", juga kisah mereka bertiga yang tak kalah mengherankannya. Tiga sosok manusia yang saling mengikatkan diri di antara kardus-kardus bekas dan tempat sampah. Saya hanya bisa mendesah berat mengikuti kisah tiga tokoh ini.

Sementara Dawir, Turah, dan Totol yang tak tahu besok mau makan apa, sebaliknya Kang Narya memiliki (2) Harta Gantungan, berupa kerbau, yang akan digunakan sebagai imbalan untuk mengurus jenazahnya kelak. Trenyuh, yang saya rasakan saat membaca cerpen ini.

Resensi novel terbaru, resensi novel gramedia" ... yang gagah, yang cantik, yang mulus, yang bopeng, sama saja. Di mataku mereka akan segera berubah menjadi tengkorak dan tulang-tulang yang berjalan kian kemari ...." Itulah yang dilihat oleh mata Sardupi. Dia bahkan pernah dihajar oleh Pak Braja, hansip pasar, karena tertawa terbahak-bahak saat diajak bicara hansip itu. Masalahnya Sardupi tidak bisa menahan tawanya karena (13) Pemandangan Perut yang dilihatnya. Mata Sardupi, mata yang dapat melihat perut orang-orang berdasarkan tabiat mereka. Sebuah cerpen religius, dengan gaya supranatural.

Cerpen yang juga sama-sama religius, menampilkan hubungan transedental antara Markatab yang mendapat ucapan (14) Salam dari Para Penyangga Langit.

Berbeda dengan keempat belas cerpen di atas yang terdiri dari 9-10 halaman, di (15) Bulang Kuning Sudah Tenggelam, kita akan disuguhi sebuah novelet yang mengisahkan tentang Ayuning Rahadikusumah, anak angkat seorang bupati terhormat, yang harus menentukan pilihan antara ayah angkat yang telah melimpahinya dengan kasih sayang tak terkira atau Koswara, suami tercintanya. Kisah yang sangat menyentuh bagi kita yang memiliki orang tua yang kukuh tinggal di rumah mereka, sendirian, sementara kita berada nun di sana. Membawa serta mereka tak bisa, sementara kita pun punya sejuta satu alasan jika harus tinggal di rumah orang tua. Sebuah masalah pelik, karena dalam sebuah hadits disebutkan, dengan konteks bebas yang intinya "sungguh terlalu mereka yang tidak masuk surga sedang orang tuanya masih ada di sisi mereka". Sungguh sebuah dilema.

Lima belas cerpen yang saya beri 5 bintang ini tak salah menjadi pilihan saya di antara buku lain yang ditawarkan. Terima kasih telah memilih saya menjadi pemilik Mata yang Enak Dipandang.

Sumber: Rien DJ

Saturday, April 5, 2014

Little Stories - Adeste, Rinrin, Vera, Faye, Rieke



LITTLE STORIES
Rina Susanti


Judul: Little Stories
Penulis: Adeste Adipriyanti, Rinrin Indrianie, Vera Mensana, Faye Yolody, Rieke Saraswati

Rp. 55.000,-
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 264 halaman
Terbit: Februari 2014
Cover: Softcover
ISBN: 978-602-03-0190-7
No Produk: 40101140017

Tidak seperti kumpulan cerpen pada umumnya yang ditulis oleh lebih dari dua penulis, cerita satu sama lain biasanya diikat dalam satu tema. Kumpulan cerpen berjudul Little Stories ini terdiri dari 20 cerita dengan beragam tema dan walaupun tema cinta mendominasi, cerita cinta yang diangkat tidak hanya hubungan antara lelaki dan perempuan dewasa.

Salah satu kisah cinta yang menyentuh ada dalam cerita yang berjudul Berdua Saja. Kisah kasih dan sayang antara seorang anak dan ayahnya. Di mana seorang anak menolak secara halus keinginan ayahnya untuk menikah lagi.

“Aku lebih suka berdua saja,” kata Niko pelan.

Ahok tertegun. Mata sipitnya menelusuri wajah mungil yang menengah di depannya. Di gesernya naik gagang kacamata wajah Niko sembari menghela nafas (hal 223).

Ikatan cinta seorang anak dan bapaknya bisa juga di temui dalam cerpen Semangkuk Baso Tahu mengenai, kisah seorang anak yang ingin membahagiakan bapaknya dengan semangkuk baso tahu. Cerpen yang ditulis Orin.


“Nanti Ujang lihat dulu ya, Pak. Kalau jualan, Ujang beliin Bapak Bakso tahu.” Bapak tertawa hingga batuk berikutnya menghentikan kekehan itu.

“Nuhun nya, Jang. Mudah-mudahan weh si Mang Iyan jualan hari ini mah.”

“Iya, Pak.” Aku berdoa tulus, tetapi untuk alasan lain. Karena sebetulnya Mang Iyan tak penah tidak jualan. Karena sebetulnya bermangkuk-mangkuk bakso tahu selalu tersedia di warungnya. Karena sebetulnya aku yang memilih berbohong pada Bapak... (hal 65)

Cerita berjudul Brongkos Mertua adalah kisah yang mungkin banyak dialami pasangan muda perkotaan, cinta yang dibumbui dengan ‘perseteruan’ antara menantu dan mertua. Gelar tidak bisa dipisahkan dari bronkos maka kunjungan setiap dua minggu ke rumah Ibunya untuk menyantap bronkos adalah agenda wajib. Pada setiap kunjungan itu pula Ibu akan menyindir istri Gelar.


‘Wanita zaman sekarang lebih senang buang duit suami di mal ketimbang meracik bumbu di rumah. Mana mau tangannya tergores pisau, kebledosan minyak, matanya pedas ngupas bawang merah, atau kecocol cabe. Nggak gampang lhop cari calon menantu yang mumpuni di dapur.’ (hal 45).

Dengan alasan itu dan atas saran Gelar, akhirnya istrinya belajar membuat brongkos pada mertua dan itu bukan hal mudah terlebih ia tidak terbiasa di dapur. Dapur jadi semacam medan perang (hal 50 )Bisa dikatakan bukan ide cerita yang baru. Namun penulis berhasil membuatnya terasa beda karena penulisan tempat adegan cerita berlangsung cukup detail dan alur yang runut.

Cerita yang tak kalah menarik adalah cerita berjudul Gohu Buat Ina, ide ceritanya unik dan cerita tuntas dalam adegan percakapan yang mungkin kurang dari satu jam bertempat di dapur saat Ina dan Andine membuat Gohu. Tentang bagaimana Gohu – semacam rujak pepaya mengkal dengan bumbu bakasang (terasi khas menado) – membuat Ina bersuka cita memakannya karena ia tengah hamil muda, namun terasa pahit bagi Andine karena saat itu Gohu mengingatkan pada masa lalunya yang buram dan terasa keji.

Gohu Buat Ina adalah cerita yang paling saya suka, ‘sense’ nya kerasa banget, natural plus gaya penceritaannya yang unik alias jarang.

Kumpulan cerita ini ditulis lima penulis perempuan yang mungkin namanya masih asing untuk para penggemar fiksi, namun kebolehan mereka menulis bisa dilihat dari gaya penceritaan yang berbeda dari cerita-cerita metropop pada umumnya. Detail tempat yang dituliskan dengan baik, sudut pandang penceritaan baru dan ada beberapa cerpen dengan ide yang tidak biasa dalam ranah cerita pendek metropop tanah air. Seperti dalam cerita yang berjudul Nama Untuk Raka (hal 200) dan Pasien (228), namun masuk akal jika terjadi dalam kehidupan nyata.

Kalau biasanya fiksi yang dilabeli genre metropop mengisahkan cerita dengan latar belakang kelas menengah perkotaan maka dalam kumpulan cerpen ini merangkum banyak sisi kehidupan kota besar. Kisah perantauan yang hidup dalam rumah- rumah kontrakan berukuran 3x3, penggusuran lahan, demonstrasi, stres, depresi yang seperti menjadi wabah baru di kalangan menengah masyarakat perkotaan, dan cerita dengan tokoh utama peranakan Tionghoa yang tetap lekat dengan budaya dan tradisi di tengah gempuran moderisasi, seperti dalam cerpen Bakcang Terakhir (hal 32), yang bercerita mengenai reinkarnasi.

Kelima penulis berbakat ini ‘ditemukan’ Maggie Tiojakin, seorang penulis yang karyanya diperhitungkan di dunia kepenulisan fiksi tanah air. Maggie membekali dengan kursus menulis kreatif sebelum kelima penulis ini berembuk untuk membukukan tulisan-tulisan mereka.

Tak heran jika penyusunan buku yang terdiri dari empat bab ini didasarkan pada katagori latihan menulis. Bab 1 bertema kuliner, bab 2 bertema demonstrasi, bab 3 cerita dengan basis prompter yaitu dengan kalimat pembuka cerita yang sudah di tentukan dan bab terakhir cerita dengan tema bebas. Setiap penulis menulis satu cerita pada setiap bab. Buku ini cocok juga dibaca orang yang tertarik belajar menulis fiksi khususnya cerita pendek seperti bagaimana menemukan ide, bagaimana sebuah ide bisa menjadi banyak cerita dan tema.

Sumber: Rina Susanti (via Gramedia)

Sperma Airmata - Tandi Skober





LUKA KULTURAL DALAM SPERMA AIRMATA

Pungkit Wijaya



Judul: Sperma Airmata
Penulis: Tandi Skober
Penerbit: SkylArt Publisher
Tahun: 2012

Danarto, sempat berujar bahwa “saya percaya, tema dan jalan cerita bukanlah yang terpenting. Yang paling utama dari cerita pendek adalah cara bertutur yang memikat” kepercayaan Danarto sebagai cerpenis kenamaan sastra Indonesia tersebut diungkapkannya dalam kata pengantar buku kumpulan cerita pendek Hanna Fransisca, Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina: 2012. 

Maka, jika bertolak dari kepercayaan Danarto tersebut, setidaknya dalam membaca cerita pendek, kita sebagai bagian dari sidang pembaca akan sepakat dengan persoalan gaya tutur. Seorang cerpenis memiliki gaya tutur yang berbeda-beda untuk menyusun sebuah kelengkapan cerita. 

Tak pelaknya akademisi sastra Maman. S Mahayana dalam bukunya Bermain Dengan Cerpen: Apresiasi dan kritik Cerpen Indonesia: 2006 mengatakan “setiap karya sastra mesti dilakukan secara khas dan unik, dunia imajinatif yang digambarkan dalam karya sastra tertentu. Ia mesti ditempatkan secara berbeda dari karya sastra lain. Setiap pengarang mempunyai pandangan, ideologi, sikap, persepsi, dan style yang berbeda dari pengarang lain.” 

Dengan demikian ini menegaskan kedatangan kumpulan cerita berjudul Sperma Airmata: 2012 yang ditulis oleh Tandi Skober, pula diterbitkan SkylArt Publisher, sebuah penerbit “indie” yang berada di Bandung. Dalam buku kumpulan cerita tersebut terdapat 22 judul yang berkisar seputar ruang gerak kultural dan narasi gugatan dalam sayup-sayup luka yang masih memberat. 

Sperma Airmata menjadi judul yang khas dalam buku ini, ada dua frasa yakni sperma dan airmata, mungkinkah ini penegasan frasa metaforik dari keseluruhan isi cerita dalam buku Tandi Skober itu? Meskipun sama-sama berwujud cair, namun “muncratanya” bisa berbeda. Dalam narasi pertama ada gugatan yang terus lekat: 

“Menjadi anak haram sejarah Indonesia di zaman yang gagap pada titik terjauh cuma bisa tiarap,” itu catatan pacar pertama saya, Mun, pada Oktober 1969. (hal 1). 

Paragraph pertama dalam cerita berjudul Sperma Airmata itu ternyata kabarkan kelam, penggunaan subjek saya (orang pertama) sebagai narrator membuat cerita terkesan sederhana atau meruang, berbeda dengan subjek kata “aku” misalnya, meskipun dalam setiap alur ceritanya berlompatan, berlarian menuju suasana yang getir. 

Tokoh Mun, menjadi semacam halusinasi yang terus terbayang, menjadi tokoh nyata dan imajiner dalam ruang cerita. “Mun? hmm, laut pun melipat ombak yang mabuk. Saya dan Mun bermandi dinding pasir Cirebon. Bergumul lumpur, bercahaya purnama yang telanjang. Nelayan menulis nasib dilembaran angin selatan. “ternyata Indoensia tercipta dari serpihan muram yang rapuh ketika Tuhan gagal ciptakan hantu pancasila.” (hal 2). 

Dalam narasi itu suasana yang bergerak dari ruang lokalitas pesisir Cirebon yang terkenang, sejumlah letupan dan gugatan menjadi penting dalam cerita tersebut. Harapan berkelindan dalam cerita ini “menjadi anak haram Indonesia kudu bisa mematikan hasrat. Tidak menjadi anak panah yang melesat dari busur risau yang rapuh.” (hal 4). 

Rekontruksi Peristiwa 
Tandi Skober, dalam kumpulan cerita ini seperti menyiratkan luka kultural yang diasumsikan kepada sejumlah tokoh yang hadir dalam ceritanya. Nuansa kebangsaan dalam gerak tuturan, pula ada beberapa tokoh yang menerima, sembari mencaki maki rentan waktu yang sudah lewat. Dalam Burung Nazar di Ujung Bendera 

“Indonesia, ini cerita saya tentang sesekor burung nazar. Tiap kali saya membuka jendela saat subuh, selalu saja saya lihat burung nazar di ujung tiang bendera yang melengkung. Mata tajam burung bangkai itu bagai pisau yang membedah ruang kerja saya.” (hal 19) 

Bagi Tandi Skober, luka itu mungkin dikabarkan dalam bentuk narasi. Sejumlah amatan yang tentu saja menyebabkan para tokoh ceritanya hanya bisa berharap, sesekali ingin menjahit luka itu, luka yang menganga di rahim Indonesia. Pada sisi lain, literasi Cirebon, Medan dan Indramayu hadir dalam cerita pendek itu, bahasa Cirebon terutama mengiringi sejumlah catatan suasana perjalanan yang telah dilalui Tandi. Ada sejumlah rentetan bahasa Cirebon dan Indramayu yang menjadi penting untuk dibaca. Benjing amenaging kela kali asat, ana eksor molor jor-joran, sumur murubi sagara, wong dawur dadi umbul-umbul, wong cilik tengak-tengul nydoti umbel, mila nyuwuna estu, supadi dadi negeri tan negeri, wis sigra rainira lurua turuk, nganggo amangku Dermayu. (Kelamin yang Kelam, hal 93) 

Selain mitologi dari Indramayu yang hadir disela-sela cerita. Kelebihan Tandi Skober terbentangnya pengetahuan mitologi yang ia ketahui memperkaya efek fiksi dan berkelindan dengan suasana hari ini, lekatnya imajinasi cerita mitos dikontekstualisasikan juga rekonstruksi peristiwa dalam buku ini. Seperti halnya cerita wayang. Berbeda halnya apabila dibandingkan dengan kumpulan novelnya yang berjudul Namaku Nairem:2012 yang juga berbarengan diterbitkan pada tahun ini. 

Suara Satire 
Membaca kumpual cerita ini, setidaknya narasi obrak-abrik yang dipakai Tandi Skober. Di usianya yang sudah “Aki” meminjam kata dalam cerita pendek Idrus, sebagai cerpenis sekaligus esais yang tulisannya selalu mencampur adukan nuansa imajinasi, parodi yang berujung pada suara satire. Terlebih dalam ihwal menulisnya, sangat sulit membedakan esai atau cerita pendeknya. Mungkin Tandi Skober hendak menolak mitos gaya tutur menulisnya itu, sejauh pembacaan cerita dalam 22 judul di buku ini, ada yang menekankan makna tekstual dan makna refenesialnya, Paul Ricoeur menyebutnya sebagai event-meaning dialectics atau dialektika makna-peristiwa. Sebuah cerpen harus mengandung peristiwa, karena kalau tidak dia akan berubah menjadi esei atau puisi. 

Meskipun demikian, nada kritik melayang di jalur narasi dan lompatan cerita. Maka di usia lansia Tandi Skober, bukan saja menghadirkan Soeharto atau SBY dalam ceritanya namun ia tengah mengobrak-abrik sejarah masa silam bangsa ini. Narasi itu, kian lekat dalam ingatan, menempel dalam realitas hingga pada batas tertentu, ada suara lain yang selalu bergemuruh, berkecamuk namun bergerak menuju alunan sayup. Ruang imajinasi dan memori personal yang saling silang. 

Menariknya ditengah suasana gemuruh, senyap-lenyap, Sperma Airmata hadir ditengah letupan galau. Dalam cerita Tandi Skober, gaya tutur itu menjadi khas dalam nuansa tema kritik sosial yang berbentuk parodi. Adakalanya kejujuran bagi Tandi sebagai tokoh aku dalam cerpen berjudul Cerpen Tandi yang Tidak Dimuat Dikoran: 

“Lihat saya Yudhoyono! Saya maklumatkan perlawanan metafisika! Saya adalah edan yang mengendap-endap di antara mesin-mesin raksasa peradaban dan rasionalitas ego yang gagap saya adalah edan yang terlempar pada kesunyian gulita. Terjerembab pada jaring-jaring kekuasaan.” (hal.119) 

Selain gugatan dan satire terhadap bangsa yang memuncratkan sperma airmata. Tandi sedang menawarkan estetika guyon dalam suasana di taman lansia, konon di taman lansia itu para “Aki” senang bermain-main dengan daya imajinasi yang bangka. 

Pungkit Wijaya, Bergiat di Forum Alternatif Sastra (FAS) Bandung