Search This Blog

Showing posts with label Bentang. Show all posts
Showing posts with label Bentang. Show all posts

Saturday, April 5, 2014

Laskar Pelangi - Andrea Hirata



KISAH HEROIK 11 ANAK BELITONG
Dinova Putra


Judul : Laskar Pelangi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2008
Tebal : XVIII + 534 Halaman 20,5

Ini adalah kisah heroik kenangan 11 anak Belitong yang tergabung dalam "Laskar Pelangi": Syahdan, Lintang, Kucai, Samson, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Mahar, Flo dan sang penutur cerita – Ikal. Andrea Hirata, yang tak lain adalah Ikal, dengan cerdas mengajak pembaca mengikuti tamasya nostalgia masa kanak-kanak di pedalaman Belitong yang berada dalam kehidupan kontras: kaya dengan tambang timah, tapi rakyatnya tetap miskin dalam kesehariannya.

Ini adalah cerita tentang semangat juang menyala-nyala dari anak-anak kampung Belitong untuk mengubah nasib melalui sekolah, yang harus mereka dapat dengan terengah-engah. Sebagian besar orang tua mereka lebih suka melihat anak-anaknya bekerja membantu orang tua di ladang, atau bekerja menjadi buruh kasar di PN Timah, daripada sekolah yang tak jelas masa depannya.

Derita sekolah itu tergambar jelas ketika SD Muhammadiyah di kampung miskin itu terancam tutup kalau murid baru sekolah itu tidak mencapai 10 orang. kesebelas anak itulah yang telah menyelamatkan masa depan suar pendidikan yang hampir redup digilas ekonomi.

Kesebalas anak itu memiliki keunikan masing-masing. Diantara 11 anak Laskar Pelangi itu, Lintang dan Mahar adalah 2 diantara yang paling menonjol. Lintang jenius dalam bidang eksakta, Mahar ahli di bidang seni budaya. Mereka seolah mewakili otak kanan dan otak kiri manusia. Lintang memiliki semangat juang yang tiada tara dalam belajar. Dia rela menempuh perjalanan dengan kereta angin sejauh 80 km pergi pulang demi dapat memuaskan dahaga ilmu pegetahuan. Saking semangatnya hingga akan tercium karet terbakar dari sepatunya yang aus digerus pedal sepeda. Jika ada aral melintang di jalan dan terlambat sampai sekolah, tiada masalah baginya, asal dapat menyanyikan lagu "Padamu Negeri" pada akhir jam pelajaran.

Novel Laskar Pelangi penuh dengan taburan wawasan yang luas bak samudra dari penulisnya yang paham betul tentang ilmu eksakta, seni budaya, dan humaniora. Kita akan dibuat tersenyum geli dari humor kecil yang dilontarkannya, terharu dan bahkan menangis ketika membaca kisah heroik kesebelas anak Laskar Pelangi.

Filicium adalah pohon yang menjadi saksi seluruh drama kehidupan Laskar Pelangi. Pohon itu menaungi sekolah mereka yang hampir roboh. Pohon itu menjadi markas setiap pertemuan mereka: membicarakan soal-soal di sekolah, merancang karya untuk festival 17 Agustus, atau tempat Lintang memberi kuliah tentang ilmu fisika. Pohon itu pulalah yang menjadi saksi kerinduan Ikal pada gadis manis keturunan cina, anak pemillik toko Sinar Harapan yang memiliki jari lentik dan kuku cantik.

Anak-anak Laskar Pelangi itu hidup dalam kebahagiaan masa kecil dan menyimpan mimpi masing-masing untuk hari esok. Tapi siapa yang sanggup melawan sang nasib? Dua belas tahun kemudian, Ikal menyaksikan perubahan nasib teman-temannya yang sungguh diluar dugaan. Sang nasib sungguh menjadi sebuah misteri yang maha gelap. Anak-anak Laskar Pelangi itu boleh punya cita-cita setinggi langit, tapi nasib jualah yang menentukan episode kehidupan mereka selanjutnya. Sang nasib bisa jadi adalah ketiadaan kepedulian pemerintah akan bibit-bibit unggul mutiara anak bangsa yang harus terhempas oleh himpitan ekonomi. Mereka adalah anak-anak harapan bangsa yang terpaksa harus tunduk oleh gilasan nasib yang semestinya bisa diupayakan oleh pemerintah yang punya amanah dan kuasa untuk memajukan pendidikan.

Lintang, sang jenius itu misalnya kini harus terpuruk jadi sopir tronton karena harus menjadi tulang punggung keluarga, menjadi pengganti ayahnya. Tapi Lintang punya jawaban, " jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tidak jadi nelayan…." Bagi Ikal, kata-kata itu semakin menghancurkan hatinya, ia marah, kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Ia mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.

Keunggulan Novel
Kekuatan novel ini terletak pada sentilan humaniora tentang pentingnya pendidikan sekolah dan sekaligus kuatnya moral agama. Novel ini wajib baca bagi generasi muda yang terlena dengan gelimang kemudahan ekonomi dan tak lagi kenal jerih payah untuk menggapai masa depan. Novel ini juga wajib baca bagi para pendidik, bagi pemerintah yang selalu alpa pada pentingnya pendidikan. Buah dari kealpaan itu diantaranya adalah, kini kita menjadi bangsa yang sering menjadi bahan olok-olok oleh bangsa lain, karena kita rajin mencetak manusia yang tak punya kualitas.

Dapat menjadi cerminan pembaca agar dapat mengambil contoh betapa pentingnya pendidikan untuk meraih cita-cita. Dapat memicu pembaca agar tetap semangat dan berjuang untuk meraih prestasi guna memajukan bangsa agar lebih baik. Terdapat nilai yang patut untuk dicontoh agar menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Memberitahukan kepada kita bahwa guru benar-benar seorang pahlawan yang tanpa tanda jasa demi mencerdaskan anak didiknya dan selalu memberikan yang terbaik.

Kelemahan Novel
Kelemahan novel ini, menurut saya, hanya terletak pada cara mengakhiri cerita. Semestinya, novel ini sudah ditutup pada bab 33: Anarkonisme, yang menceritakan kejatuhan Babel (Bangka Belitung) yang dulu bergelimbang Timah. Bab 34: Gotik, menurut saya menjadi ekor cerita yang membingungkan. Karena penutur "Aku" secara tiba-tiba menjadi orang lain, dan bukan lagi Ikal. Bab 34 ini menjadi sebuah kemubaziran. Sama persis seperti seorang pelukis yang seharusnya berhenti menguaskan catnya pada bidang lukis yang sudah sempurna, tapi kemudian menjadi berantakan karena sebuah goresan yang tidak perlu.

Kata-kata yang digunakan kurang menunjukan bahwa tokoh adalah seorang anak, yang seharusnya tiak melakukan kewajibannya untuk membantu pamannya.

Mengapa tokoh ikal di dalam cerita tidak berkesinambungan dengan isi novel yang lainnya. Seharusnya bisa digunakan nama yang lainnya.

Kesimpulan
Dari novel yang di buat oleh Andre Hirata ini, saya dapat mengambil beberapa pelajaran hidup yang penting, salah satunya kita harus benar-benar menghargai hidup, menghargai semua pemberian Tuhan, tidak pantang menyerah bila menginginkan sesuatu, dan tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita mau dan berusaha. Dan satu lagi, pintar tidak menjamin kita untuk selalu sukses, seperti cerita pada tokoh lintang, dia anak yang pintar, namun diakhir cerita dia menjadi seorang supir truk, disini saya dapat mengambil kesimpulan, bahwa semua kehidupan manusia sudah ada yang mengaturnya, yaitu Tuhan. Semua yang kita kerjakan tidak lepas dari campur tangan Tuhan.

Sumber: Dinova Putra

Inferno (Neraka) - Dan Brown




KARYA SASTRA YANG NYARIS SEPERTI KITAB SUCI
Saladbowldetrois


"Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral."

Robert Langdon terbangun di sebuah rumah sakit di Florence dengan keadaan kepala berjahit dan amnesia cukup parah. Langdon kehilangan ingatan jangka pendeknya yang merupakan alasan mengapa ia bisa tiba di Florence dengan keadaan seperti itu.

Dalam keadaan cukup panik, Langdon juga dikejutkan dengan kenyataan bahwa dirinya juga dijadikan target oleh seorang pembunuh bayaran serta sepasukan lengkap berseragam hitam milik pemerintah. Dengan bantuan seorang dokter yang bernama Sienna, Langdon pun mengetahui bahwa dirinya membawa suatu benda yang menjadi kunci dari seluruh perjalanan anehnya ini.

Benda itu berbentuk stempel kuno yang memberikan sebuah petunjuk, dimana seluruh rangkaian kejadian ini berhubungan dengan salah satu mahakarya terhebat yang pernah diciptakan. Rangkaian puisi karya Dante Alighieri yang berjudul Inferno (neraka).

Tak jauh dari rumah sakit tempat Langdon dirawat, enam hari yang lalu ditemukan jasad seorang laki-laki yang disinyalir menjatuhkan dirinya dari puncak salah satu menara paling terkenal di Florence. Dan laki-laki tersebut merupakan salah satu klien terpenting dari sebuah organisasi paling rahasia di seluruh dunia, Konsorsium.

Lalu apa hubungan antara pemerintah denga organisasi tersebut? Dan bagaimana Langdon pada akhirnya mampu mengetahui arti dibalik semua petunjuk yang diberikan oleh stempel kuno tersebut?

Buku terbaru karya Dan Brown ini sekali lagi menawarkan penulisan yang sangat sangat sangat Dan Brown sekali. Semua alur,cara pengenalan tokoh-tokohnya, konflik yang ditawarkan hingga cara pemecahannya.

Bagi yang sudah pernah membaca The Da Vinci Code maupun Angel & Demon pasti akan mengetahui apa yang aku maksud dengan ‘khas’ Dan Brown tersebut. Sebenarnya hal ini cukup membuat agak sedikit bosan di awal, namun sekali lagi buku ini masih sangat menarik untuk diikuti.

(Apa mungkin aku bias ya? Hahahaha)
Inferno sendiri adalah bagian pertama dari mahakarya seorang penyair besar yang bernama Dante Alighieri yang berjudul The Divine Comedy (Komedi Ketuhanan). Sedangkan bagian kedua berjudulPurgatorio (Penebusan) dan bagian ketiga berjudu Paradiso (Surga).

Meskipun berjudul komedi, namun The Divine Comedy ini sama sekali bukan karya yang berisi lelucon.Komedi di sini lebih diartikan karena Dante menuliskannya dengan bahasa Italia modern atau lebih dikenal dengan bahasa rakyat.

Karena pada jaman itu, semua karya yang menggunakan bahasa modern akan dianggap kurang sopan atau dalam hal ini disebut sebagai bahasa kelas dua. Maka dari itu disebut sebagai bahasa komedi (lelucon) yang sering dipakai sehari-hari.

Namun justru dikarenakan bahasanya yang mudah dimengerti maka pesan-pesan yang disampaikan oleh buku ini menjadi sangat mudah terpatri di dalam benak setiap orang yang membacanya.

Bahkan menurut sejarahnya setelah buku ini terbit, Inferno menjadi semacam pengingat akan dosa yang harus dihindari. Dan dengan detail neraka versi Dante, banyak orang yang kemudian memilih untuk bertobat. Denga kata lain, buku ini lebih efektif mengajak orang untuk ke Gereja daripada Alkitab pada jaman itu.


The Divine Comedy ini konon katanya juga membuat Dante mendapatkan apresiasi yang mendalam dari berbagai macam seniman kelas atas. Bahkan pembuat patung David yang tersohor itu juga ikut menuliskan pendapatnya akan penyair tersebut.

Tidak pernah ada di dunia, orang yang lebih hebat daripada dia.
-Michelangelo

Dante hidup di Florence, Italia dari tahun 1265 sampai dengan tahun 1321. Kehidupan Dante sendiri sebenarnya sangat normal seperti layaknya orang kebanyakan, hingga pada akhirnya ia bertemu dengan seorang wanita bernama Beatrice Portinari yang menjadi cinta matinya seumur hidup dan inspirasi utamanya. Sayangnya cinta Dante bertepuk sebelah tangan karena Beatrice pada akhirnya menikah dengan pria lain.

Inferno adalah bab yang menceritakan perjalanan Dante ke sepuluh tingkat neraka. Dalam karyanya, Dante memakai tiga nama wanita, Virgil, Maria dan Beatrice. Dalam perjalanan ke neraka, Dante ditemani oleh Virgil. Sedangkan perjalanan penebusannya Dante di temani oleh Maria dan dalam perjalanan ke surga ia ditemani oleh Beatrice.

(Pas tau hal ini jujur aku mikir: oh ternyata Dante juga manusia, dia bisa galau, terbukti pas ke surga aja dia bayanginnya sama Beatrice. Ya semacam kata Fadli PADI: meskipun aku di surga… tetap ku tak bahagia, karena itu tanpamu… )

Interpretasi Inferno karya Dante ini kemudian dituangkan oleh salah satu seniman besar yang bernama Botticelli yang melukiskan bagaimana gambaran tingkatan neraka versi Dante. Lukisan yang terkenal dengan nama La Mappa dell’Inferno atau dalam bahasa Inggris disebut dengan: Map of Hell.

Map of Hell karya Botticelli ini digambarkan sebagai irisan-melintang di bumu denga lubang besar berbentuk corong yang kedalamannya tak terhingga. Lubang neraka ini dibagi menjadi teras-teras menurun dengan penderitaan yang semakin hebat. Setiap tingkat dihuni oleh masing-masing jenis pendosa yang tersiksa.

Adapun tingkatan dosa itu diambil dari mnemonik Latin yang diciptakan oleh Vatikan pada Abad Pertengahan untuk mengingatkan umat Kristiani pada Tujuh Dosa Besar. Disingkat dengan nama SALIGIA yang berarti Superbia (kesombongan), Avaritia (keserakahan), Luxuria (hawa nafsu),Invidia (kecemburuan), Gula (kerakusan), Ira (kemarahan) dan Acedia (kemalasan).

(Mungkin karena aku muslim, daripada gambaran Inferno ini buat aku lebih serem buku-saku-siksa-neraka-yang-dulu-terbit-jaman-tahun-90an-itu >_< dan dalam Islam, tujuh dosa besar ini juga termasuk dalam kategori dosa =_= semua agama itu pada hakikatnya selalu mengajak kearah yang benar ^^)

Seperti sebelumnya, kali ini Dan Brown juga mengajak pembacanya untuk menelusuri berbagai macam karya seni yang ada di dunia. Untuk Inferno kali ini, para pembaca akan diajak untuk berjalan-jalan dalam imajinasi di kota tua Florence, Venesia dan berakhir di Turki.

Yang pertama adalah Gerbang Porta Romana yang di jelaskan di Bab 20. Gerbang ini dibangun pada tahun 1320 dan pernah dijadikan sebagai tempat Bazar Kontrak atau Fiera dei Contratti. Dimana pada jaman itu para orang tua seringkali memaksa anak-anak perempuan mereka untuk kawin kontrak dan mendapatkan mas kawin yang tinggi.

Di dalam buku, gerbang ini merupakan tempat pertama dari pelarian Langdon bersama Dokter Sienna ketika dikejar oleh pembunuh bayaran.

Di bab 21, para pembaca akan bertemu dengan dengan lukisan karya seniman Vasari yang dibuat pada tahun 1563 dan tergantung di Palazzo Vecchio, Florence. Lukisan ini menyimpan misteri akan arti kata Cerca Trova (cari dan temukan) yang hanya bisa dilihat dengan memakai binocular(teropong). Kata-kata inilah yang menjadi inspirasi Langdon pertama kali akan misteri yang ia pecahkan.

Bab 27 akan banyak menceritakan tentang istana keluarga Medici. Keluarga bangsawan kaya raya yang berjaya hingga empat abad namun pada akhirnya harus mengangalami kebangkrutan di akhir tahun 1700 atau abad ke delapan belas.

Istana keluarga Medici menjadi tempat persembunyian Langdon ketika dikejar oleh para tentara berseragam hitam. Mulai dari Institut Seni, Boboli Garden dan pada akhirnya bersembunyi di gua buatan.

Bab 37 menceritakan tentang kunjungan Langdong ke Palazzo Vecchio. Memasuki The Hall of Five Hundred, berjalan terus ke arah Lo Studiolo untuk bisa melihat secara dekat muka asli Dante Alighieri yang tercetak dalam topeng kematiannya sendiri. Dengan menemukan topeng kematian Dante, pada akhirnya satu persatu misteri mulai terkuak.

Bab 51 akan mengajak pembaca ke dalam Museo Casa Di Dante kemudian berlanjut ke rumah suci Chiesa atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Dante yag terletak di Santa Margherita dei Cerchi.

Pada Bab 53 para pembaca akan bertemu dengan pusat spiritual kuno di Florence, yaitu Katedral Santa Maria del Fiore atau yang lebih dikenal dengan julukan Il Duomo.

Bab 72 pembaca akan bertemu dengan Basilika Santo Markus dengan keempat patung kuda perunggunya yang merupakan salah satu hasil dari jarahan saat perang salib berlangsung.

Disinilah pada akhirnya Langdon benar-benar memahami semua misteri yang dimaksud. petunjuk-petunjuk yang pada akhirnya membuat ia sadar bahwa terjadi kekeliruan dalam pemikirannya.

Kuda perunggu Santo Markus. Kalung leher yang dipakai oleh kuda disinyalir sebagai penyangga kepala Kuda yang sengaja di potong agar mudah di bawa di dalam kapal saat dibawa kembali ke Venesia

Kemudian perjalanan di lanjutkan ke negara tempat persimpangan timur dan barat berlangsung. Negara sekuler dimana semua kepercayaan barat dan timur bisa berdiri bersebelahan.

Perjalanan ke Istanbul, Turki yang pertama adalah melewati Blue Mosque, kemudian Hagia Sophiadan berhenti pada waduk kuno Yerebatan Sarayi (Istana yang Tenggelam).

Sama seperti buku terdahulunya, Dan Brown selalu berhasil menggabungkan apa yang menjadi issue yang sekarang lagi marak dibicarakan dengn hal-hal yang berkaitan dengan symbol dan sejarah. Membuat para pembacanya seakan-akan benar mempercayai bahwa apa yang tertulis di situ adalah benar adanya.

Saking tipisnya perbedaan antara fiksi dengan fakta yang disajikan, kita sebagai pembaca harus benar-benar jeli. Namun untuk buku Inferno kali ini perbedaanya masih bisa diketahui. Karena issue yang dibahas itu sangatlah bertolak belakang dengan karya sastra Dante yang menjadi patokan.

Buat aku pribadi, menghabiskan 639 halaman dalam lima hari itu termasuk cukup panjang. Kenapa? Karena ya seperti yang aku bilang di awal menurutku ini agak sedikit cukup bertele-tele. Ditambah dengan beberapa istilah yang membuat aku harus membacanya berulang-ulang baru bisa aku cerna.

Ya ditambah waktu kerja yang selalu sampai malam, jadi bacanya juga curi-curi waktu. Dari segi terjemahan menurutku ini bagus. Tidak membuat bingung dan bisa dibaca dengan mudah. Istilahnya tidak membuat orang berfikir untuk membaca versi aslinya karena bingung akan bahasa terjemahan yang dipakai.

Yang paling aku suka adalah di bagian akhirnya, dimana diselipkan banyak sekali pemikiran mengenai issue yang dibahas. Pembaca diajak untuk ikut lebih peka terhadap hal-hal disekitar terutama untuk daerah abu-abu kehidupan. Lalu mengenai teori penyangkalan serta hal-hal yang memang menjadi polemik tersendiri hingga saat ini dan dapat dijadikan sebagai sebuah renungan.

Mengenai teori apa yang dibahas atau konsep apa yang dipakai dalam buku ini sebenarnya aku pengen banget buat jelasin, tapi aku pikir itu akan menjadi spoiler yang tidak terbantah. Karena justru itu yang menjadi kunci dari misteri yang dibahas dalam buku ini, jadi lebih baik bila dibaca sendiri hehehe.

Yang pasti Dan Brown juga mengaitkan cerita ini dengan wabah hitam atau yang lebih dikenal dengan The Black Death. Wabah ini terjadi pada tahun 1348 ~ 1350 dan menewaskan 75 ~ 200 juta warga Eropa, atau sekitar hampir 60% populasi.

Seperti biasa, Brown juga tetap menyelipkan karakter Langdon yang memang diceritakan seorang Darwinian. Atau seseorang yang lebih meyakini fakta daripada sebuah keyakinan akan agama. Meskipun pekerjaan Langdon adalah seorang ahli simbol yang rata-rata selalu berkaitan dengan simbol keagamaan.

Dari sini banyak pembaca setia Brown yang secara tidak langsung meyakini bahwa Brown sebenarnya ingin menunjukkan sedikit pembangkangan terhadap Vatikan. Yang mana sudah ia lakukan semenjak jaman kontroversi akan sifat keilahian Yesus dalam buku The Da Vinci Code.

Kesimpulannya buku ini sangat direkomendasikan buat yang suka fiksi sejarah. Hanya saja aku berharap Dan Brown dikedepannya bisa membuat yang setara dengan The Da Vinci Code. Namun paling tidak dengan harga seratus dua puluh lima ribu aku bisa menutup buku dengan puas untuk kali ini.

Last, kutipan pembuka di atas adalah kunci dari seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi. Dimana jika di telaah lebih lanjut kalimat itu akan berbunyi:

Dalam masa berbahaya (krisis) tidak ada dosa yang lebih besar daripada tetap diam.