Search This Blog

Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

Tuesday, May 13, 2014

Lelaki Tua dan Laut - Ernest Hemingway

Resensi Buku Lelaki Tua dan Laut - Ernest Hemingway
PERJUANGAN LUAR BIASA SEORANG NELAYAN TUA
Karya Achmad Muchtar


Judul buku: Lelaki Tua dan Laut
Judul asli: The Old Man and the Sea
Penulis: Ernest Hemingway
Penerjemah: Yuni Kristianingsih Pramudhaningrat
Cetakan: II, Juli 2009
Penerbit: Serambi
Tebal: 145 halaman
ISBN: 978-979-024-147-3

Ada lelaki tua, sangat tua dan renta. Dia adalah nelayan di Amerika Tengah. Ada juga seorang anak lelaki. Anak lelaki itu menemani lelaki tua itu berlaayar mencari ikan. Berpuluh-puluh hari mereka tidak mendapatkan apa-apa hingga akhirnhya anak lelaki itu berlayar dengan kapal lain. Lelaki tua itu sendiri. Dia berusaha dengan gigih mencari ikan.

Dia berusaha sekuat sisa-sisa tenaganya untuk mencari ikan. Lelaki tua itu telah berusaha dengan sekuat tenaga hingga ia mendapat ikan yang besarnya hampir setara dengan perahunya. Karena dia berlayar terlalu jauh, rintangan membawa beban berat pun datang silih berganti. Lelaki tua yang malang dan patut dipuji kegigihannya dalam menaklukkan laut.

"Manusia bisa dihancurkan, tapi tak bisa ditaklukkan." (hlm. 113)

resensi buku gramediaSaya sangat suka sekali dengan cerpen ini. Sebuah karya sastra karya Ernest Hemingway yang mendapat Pulitzer Prize. Cerpen (ada juga yang menyebutnya novela karena saking panjangnya untuk sebuah cerpen) ini telah mengantarkan Hemingway kepada puncak ketenaran sebagai salah seorang penulis papan atas Amerika. Menurut para kritikus sastra, inilah karya masterpiece Ernest Hemingway. Berkat popularitasnya pula, telah beberapa kali cerpen ini diangkat ke layar lebar. 

Kebetulan ini adalah novel Ernest Hemingway pertama yang saya baca. Ceritanya ringan, sangat ringan untuk sebuah mahakarya. Namun, di balik keringanannya, novel ini mempunyai alur yang runtut dan cerita perjuangan tak kenal putus asa yang sangat menarik untuk disimak. Rasa simpati saya muncul melalui karakter dari Lelaki Tua.

Dia tak kenal putus asa, selalu optimis, dan selalu melawan walau tubuhnya telah renta. Bertubi-tubi dia disuguhkan pada bahaya dan musuh. Dia tak gentar sedikit pun. Dia terus melawan demi sesuatu yang dia idam-idamkan bersama anak lelaki tua itu. Dia tahu bahwa dengan cara membuktikan bahwa ia bisa menangkap ikan besar, ia akan dapat berlayar lagi dengan anak lelaki itu. Sebuah cerita perjuangan yang sangat menyentuh dan mengharukan. Novel ini sangat bagus dan cocok dibaca oleh semua lapisan dan umur. 

Sumber: 

Sunday, April 6, 2014

Juri Pilihan - John Grisham

MEMASUKI DUNIA PUZZLE YANG SAMAR
Ria Agustina



Judul: Juri Pilihan 
Penuli: John Grisham
Penerbit: Gramedia

Ukuran: 11 x 18 cm
Tebal: 664 halaman
Terbit: Mei 2011
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-22-6185-1

"Bagaimana seorang juri yang dipilih secara acak dapat memanipulasi sebuah persidangan besar?"

Ini bukan novel fiksi pertama dari John Grisham yang sudah saya baca, namun dengan tema sistem peradilan AS, bagus juga kalau resensi novel-novel Grisham dimulai dari buku ini, tentang sebuah proses pra-sidang. FYI, John Grisham adalah salah satu penulis novel best seller di Amerika Serikat dengan latar belakang pendidikan hukum dan berprofesi sebagai pengacara dan politisi. Tidak mengherankan jika novel-novelnya menggambarkan dunia hukum & peradilan serta konspirasi-konspirasi di dalamnya dengan sangat detail.

Dalam novel ini seperti biasa Grisham membuka cerita dengan kepingan-kepingan puzzle cerita yang samar. Pertama-tama kita masuk ke situasi pengintaian terhadap hampir dua ratus orang warga sipil yang ternyata terdaftar sebagai calon juri untuk persidangan sebuah kasus perdata gugatan dari seorang janda terhadap sebuah perusahaan rokok ternama. Karena suaminya telah meninggal dunia akibat kanker paru, perusahaan rokok tersebut dianggap bertanggung jawab atas penyakit suaminya yang telah mengisap rokok produksi perusahaan tersebut selama hampir 30 tahun.

Ratusan juri tersebut harus diseleksi hingga akhirnya berjumlah 12 orang ditambah 3 orang juri cadangan. Kedua pihak yang bersengketa dilarang keras melakukan kontak dengan calon juri dan juri terpilih karena dapat mempengaruhi hasil keputusan dan vonis dari para juri nantinya. Akan tetapi pengacara pihak penggugat dan pembela diam-diam mengintai para calon juri dan mengumpulkan informasi selengkapnya untuk mencari tahu identitasnya, pekerjaan, pendidikan, keluarganya, kebiasaannya, apakah ia merokok atau memiliki pengalaman yang berhubungan dengan efek buruk rokok, akun bank dan catatannya di kepolisian, hingga kepribadiannya, tanpa melakukan kontak langsung. Mereka bahkan menyewa grup konsultan juri untuk membaca reaksi, ekspresi, dan gerakan-gerakan kecil yang dilakukan para juri saat prasidang, simpatik atau tidak. Dengan demikian, pada saat penentuan 12 orang juri, mereka bisa memilih juri mana yang kira-kira akan mendukung pihak mereka masing-masing.

Si penggugat, Mrs.Celeste Wood, didampingi oleh biro hukum yang dipimpin oleh Wendall Rohr, seorang pengacara handal yang telah memenangkan beberapa kasus gugatan terhadap perusahaan-perusahaan besar. Selain dibantu oleh puluhan pengacara dengan idealisme yang sama, Rohr juga berhasil menggalang dukungan dari lembaga-lembaga dan para-aktivis antirokok. Sedangkan perusahaan Pynex sebagai tergugat, dibela oleh biro hukum Whitney & Cable & White.

Pynex merupakan satu dari empat perusahaan rokok raksasa yang disebut dengan The Big Four. Mereka mengumpulkan sejumlah dana yang disebut The Fund dan dikelola oleh Rankin Fitch. Kegunaannya untuk membayar sewa pengacara dan membiayai segala cara apapun yang dilakukan Fitch agar dapat memenangkan setiap sidang yang menempatkan mereka sebagai tergugat. Sejauh ini tidak ada sidang perkara gugatan terhadap keempat perusahaan rokok ini yang dimenangkan oleh penggugat.

Di antara para calon juri terdapat seorang pria muda bernama Nicholas Easter, yang dengan tidak-lazimnya tidak dapat ‘dibaca’ oleh kedua tim pengacara, khususnya para informan Fitch. Easter bagaikan manusia yang tiba-tiba muncul dari balik kabut asap atau jatuh dari langit, sangat misterius. Tidak ada yang tahu dengan pasti siapa dia, masa lalunya, dan apakah keberadaannya di boks juri akan menguntungkan atau tidak. Namun karena pilihan calon juri lain juga kurang begitu meyakinkan, Easter pun lolos dengan asumsi ia akan berada di pihak yang netral.

resensi buku, resensi novel, resensi terbaruRangkaian sidang pun dimulai. Fokus novel ini terletak pada kisah para juri dan Rankin Fitch. Pada akhir hari pertama sidang, muncul seorang wanita tidak dikenal yang menghubungi Fitch, mengusik dan mencoba menarik perhatiannya, namun segera menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu untuk tujuan apa dan kapan ia akan menghubungi Fitch. Wanita yang mengaku bernama Marlee itu tampaknya tahu tentang keberadaan dan sepak terjang kelompok rahasia Fitch.

Apa hubungan antara Marlee dan Nicholas Easter? Apa hubungan antara kedua orang ini dengan kasus gugatan serupa yang kalah di pengadilan empat tahun yang lalu? Konspirasi apa yang mereka susupkan dalam persidangan ini? Siapa yang akhirnya memenangkan perkara ini? Yang jelas, dengan kecerdikan dan persiapan matang yang telah disusun selama bertahun-tahun, Marlee berhasil meraup keuntungan jutaan dolar setelah sidang berakhir.

Bab awal novel ini diawali dengan sekelumit kisah pengintaian para calon juri yang ternyata kurang konstruktif terhadap keseluruhan isi novel. Selebihnya, John Grisham dengan jenius menjadikan sebuah persidangan besar sebagai kerangka cerita, mengisinya dengan kisah persaingan kedua belah pihak dalam menarik simpati para juri ditambah cara-cara licik dan ilegal yang dilakukan oleh kubu Fitch dengan dibumbui manipulasi-manipulasi kasat mata dan sedikit drama. Bagusnya, Grisham juga menyelipkan hasil riset-riset kedokteran yang membuktikan bahaya rokok terhadap kesehatan. 4 of 5 stars dari saya!

Sumber: Ria Agustina

Maut di Pantai - James Patterson

BUKU YANG BERPOTENSI UNTUK JADI FILM
Yuska Vonita


Judul: Maut di Pantai
Penulis: James Patterson
Penerbit: Gramedia

Ukuran: 11 x 18 cm
Tebal: 464 halaman
Terbit: Mei 2012
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-22-8419-5

Ok, pertama tertarik membaca buku Maut di Pantai - James Patterson karena penulisnya. Saya baru membaca sedikit buku karya James Patterson dan saya bertekad untuk membaca lebih banyak lagi karya beliau di tahun mendatang, sekaligus ingin mengurangi timbunan yang semakin menggunung.

Ben Hawkins, mantan detektif dan penulis fiksi yang gagal, banting setir menjadi wartawan kriminal untuk L.A. Times. Jumat malam, ia tiba-tiba diberi tiket pesawat ke Maui untuk menyelidiki kasus hilangnya Kim Daniels. Ben terinspirasi untuk menulis novel lagi dengan mengambil ide dari kasus Kim.

Sementara itu, Kim diculik malam setelah pemotretan untuk majalah pria. Ia mendapati dirinya terikat dan terkurung di dalam bagasi mobil. Ia dibawa ke sebuah tempat terpencil dimana tak ada orang yang bisa mendengar jeritannya. Nasib baik tidak berpihak pada Kim. Ia dibunuh secara sadis oleh pria bertopeng. Pembunuhan Kim direkam dengan video dan disaksikan oleh Horst dan Jan, juga anggota Alliance lain yang menyewa si pembunuh untuk melakukan pembunuhan keji dan direkam oleh video. Si pembunuh diiming-imingi kontrak baru dengan angka yang menggiurkan jika ia berhasil membuat rekaman sensasional dan berhasil memikat The Peepers.

Sementara itu, orang tua Kim, Levon dan Barbara, terkejut bukan kepalang ketika mendapat telepon misterius dari seseorang yang mengatakan bahwa Kim sudah jatuh ke tangan orang jahat. Mereka berdua disarankan untuk segera menyusul Ke Maui.

Dalam keadaan panik, mereka terbang ke Maui tanpa membawa koper. Sesampainya di Wailea Princess, Levon dan Barb dikerubuti wartawan yang memborbardir mereka dengan pertanyaan yang membuat duka mereka semakin dalam. Si pembunuh hadir dalam event tersebut, menyamar sebagai wartawan.

Setelah hilangnya Kim, ada dua perempuan lagi yang mayatnya ditemukan: Rosa, gadis Latin, dan Julia Winkler, teman sekamar Kim di Maui dan juga model Sporting Life.

Ben mendekati Levon dan Barb demi mendapatkan kepercayaan dari mereka. Ia juga bercerita tentang masa lalunya, detektif yang difitnah dan dijebak partner dan atasannya, sehingga ia terpaksa mengundurkan diri dan akhirnya mendapat kolom kriminal di L.A. Times.

Ben dibantu detektif lokal, Eddie Keola, memutar otak untuk mencari si pembunuh. Akhirnya, mayat Kim ditemukan di sebuah kapal sewaan. Tubuh dan kepalanya terpisah.

resensi novel terbaru, resensi buku gramediaDibandingkan Honeymoon, buku ini lebih membuat saya penasaran. Saya hampir tidak mau berhenti membaca. Seru, menegangkan, bikin penasaran dan membuat saya menunggu kejutan di halaman berikutnya.

Saya sangat menikmati buku ini walau agak terganggu dengan beberapa adegan sadis yang membuat saya mual. Aura buku ini maskulin sekali. Adegan berlangsung dengan cepat tanpa basa-basi. Cerita per babnya juga tidak panjang.

Dan yang membuat saya sedikit terkejut adalah, cerita di buku ini sampai masuk ke dalam mimpi saya. Seru, menegangkan, dan membuat saya capek.

Saya merekomendasikan buku ini untuk pecinta thriller. Gara-gara buku ini, tahun depan saya berniat untuk membuat James Patterson Reading Challenge.

Nggak ada produser yang tertarik memfilmkan buku ini ya? Kalau digarap dengan baik, buku ini berpotensi untuk jadi film blockbuster action-thriller.

Sumber: Yuska Vonita

Saturday, April 5, 2014

The Cuckoo's Calling - Robert Galbraith aka J.K. Rowling



MEMBEBASKAN PIKIRAN DARI BELENGGU NAMA
Raiyaroof

Judul: The Cuckoo's Calling
Penulis: Roberth Galbraith
Penerbit: Gramedia

Harga: Rp. 99.000
Terbit: Desember 2013
Ukuran: 15 x 23
Tebal: halaman
Cover: Softcover


Di novel terbarunya ini, J.K. Rowling menggunakan nama samaran Robert Galbraith. Ini manuver yang brilian mengingat namanya yang lekat dengan seri Harry Potter. Dengan Jo menggunakan nama alias, pembaca The Cuckoo’s Calling terbebas dari hasrat untuk membanding-bandingkan buku ini dengan Harry Potter, seperti yang terjadi pada Casual Vacancy (nasib malang untuk Casual Vacancy). Tapi, sebenarnya Jo menggunakan nama samaran lebih karena dia merasa dirinya seperti laki-laki ketika menulis The Cuckoo’s Calling. Dan Jo mengejawantahkan hal ini sebagai kalimat terakhir dalam cerita, “...Aku menjelma sebuah nama.” Mungkin nama ini merepresentasikan bagaimana dia ingin menulis.

The Cuckoo’s Calling adalah novel bergenre kriminal. Cerita diawali dengan kematian seorang supermodel terkenal bernama Lula Landry. Lula dianggap melakukan bunuh diri mengingat sejarah kehidupan glamornya yang pilu ditambah dengan tidak ditemukannya tanda-tanda yang aneh di sekitar tempat kejadian kematiannya. Namun kakak Lula, John Bristow, tak begitu yakin. John menghubungi detektif swasta, Cormoran Strike, untuk menemukan pembunuh Lula. Ia amat sangat yakin bahwa sosok seperti adiknya tidak mungkin melakukan bunuh diri. Mana yang benar?

Sang detektif, yang mantan anggota militer, awalnya sangsi kepada John karena semua bukti mengarah kepada kenyataan bahwa Lula memang bunuh diri. Namun Strike menerima kasus tersebut. Dibantu dengan sekretaris temporernya, Robin Ellacot, Strike mendalami kematian Lula yang akhirnya membawanya masuk semakin dalam ke kehidupan glamor dan rapuh Lula Landry.

Hanya sedikit novel yang benar-benar bisa mengunci perhatian saya (sedap!). Dan bagi saya, novel ini bukan peak dari bacaan-bacaan saya sepanjang tahun 2013 (kayak-kayak sering banget baca). Kekuatan novel ini ada pada penokohannya, bukan ceritanya. Sebenarnya, ide ceritanya simple. Plotnya sangat mudah anda duga untuk sebuah novel dengan subjek tentang detektif. Namun, Jo berhasil menciptakan karakter-karakter yang kuat dan emosional.

Siapa yang nggak terpikat dengan sosok Robin yang cerdas tapi penuh kegalauan. Sebenarnya dia sudah bertunangan, tapi rasa tertariknya pada dunia detektif (dan si detektif sendiri) membuatnya bimbang apakah dia harus tetap bertahan dengan gaji yang tak memuaskan ditambah ketidaksetujuan sang tunangan atau pindah ke pekerjaan lain yang membosankan dengan gaji memadai. Atau, si jagoan Strike yang meskipun digambarkan sebagai sosok tangguh mantan militer dengan cacat fisik akibat perang, tetapi memiliki emosi labil yang diakibatkan luka dari sang mantan kekasih dan pencapaian hidupnya yang menyedihkan di usia tiga puluhan. Atau teman-teman Lula, Guy Somé dan Ciara Porter, yang hidup dalam dunia glamor dengan gaya eksentrik yang mendamba sosok mendominasi di ranjang. Atau, Lula sendiri. Yang meskipun fakta mengungkapkan lain, tetapi ia memiliki segala kecenderungan untuk bunuh diri. Dan karakter-karakter lainnya, yang tetap diciptakan Jo dengan sangat personal. Mungkin inilah yang menjadi daya pikat buku ini, sosok-sosok labil yang menjadi tren generasi kita (kita?!!) saat ini, galau-galau gimana gitu.

Kekuatan cerita tidak begitu signifikan dalam buku ini. Rasanya cliché, mainstream untuk sebuah novel detektif. Namun begitu, interogasi Strike dalam menggali informasi dari setiap orang yang mungkin terlibat sangat memikat, karena kamu benar-benar akan merasakan perubahan atmosfer dari setiap tokoh yang berbeda. Sayangnya, ada beberapa adegan yang bakal aneh kalau kamu membayangkannya secara nyata. Ada dialog yang terlalu panjang (terutama di akhir). Dan, ada adegan yang mungkin bisa dikategorikan nekat luar biasa, yang mungkin diciptakan Jo untuk seolah mendobrak kebuntuan cerita (yaitu adegan menghambur tiba-tiba dalam kantor seseorang). Namun demikian, keseluruhan cerita tetap memikat dalam kadar yang standar. Plot-plot ceritanya saling mengunci dengan logika dingin yang cermat. Keakuratan analisis Strike (yang dalam hal ini adalah kemampuan Jo mendesain perkara) patut diacungi jempol, karena bukti-bukti kejadian akan berhamburan di sepanjang cerita. Kalau anda tekun mencatat semua bukti seperti yang dilakukan Strike, mungkin anda bisa pecahkan sendiri sebelum novel selesai dengan sedikit analisis. Karena saya nggak mengingat semua bukti, sebenarnya agak takjub dengan ending cerita, dengan banyak sentakan “oh iya” (sambil membolak-balik beberapa halaman ke belakang mencari ceceran bukti) selama Strike menjelaskan dengan runtut semua kejadian dan bukti yang memberatkan.

Secara keseluruhan, novel ini bolehlah mengisi akhir tahun anda (versi aslinya sebenarnya rilis bulan April). Ceritanya memang standar, tapi anda mungkin terpikat dengan karakter-karakter labil emosi di dalamnya. Sebenarnya saya lebih tertarik pada apakah akhirnya Robin meninggalkan Matthew, tunangannya, dan malah jatuh ke pelukan Strike (tapi ini bukan sinetron menye-menye Indonesia, kan?). Juga lebih mengasyikkan ketika Strike dan Robin sedang mendiskusikan kasus dengan keduanya saling menyimpan rasa ingin tahu yang terpendam satu sama lain. Sedangkan kisah pemecahan kasus pembunuhan (yang mungkin bunuh diri) Lula Landry lebih seperti “oh ya, saya jelas akan dapat cerita ini kan, tapi bonusnya lebih oke”. Logika cerita tetap jempol, seperti yang selalu dilakukan Jo pada novel-novel sebelumnya.

Terakhir, saya heran kenapa judul novel ini diterjemahkan menjadi Dekut Burung Kukuk. Nggak tahu juga bagaimana seharusnya judul itu diterjemahkan, tapi Cuckoo seharusnya sama sekali tidak diterjemahkan menjadi burung kukuk.

Sumber: Raiyaroof (via Gramedia)

Bumi - Tere Liye



KETIKA FANTASI MENJADI SEDEKAT REALITA
Blossombatman


Judul: Bumi
Penulis: Tere Liye
Harga: RP. 65.000

Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal: 440 halaman
Terbit: Januari 2014
Cover: Softcover
ISBN: 978-602-03-0112-9
No Produk: 31201140003


“Namaku, Raib. Dan aku bisa menghilang.”

Terus terang saya bukan penikmat cerita bergenre fantasi. Bagi saya, kemungkinan manusia hidup berdampingan dengan alien, mahluk halus, mesin waktu, dunia paralel, merupakan hal yang absurd dan sulit diterima nalar. Selain itu, kebanyakan kisah fantasi yang pernah saya baca memiliki setting luar negeri ataupun tokoh yang agak kebarat-baratan, meskipun buku tersebut ditulis oleh pengarang Indonesia. Sehingga sulit bagi saya untuk mengimajinasikan bahwa hal – hal fantasi tersebut bisa saja terjadi saat ini, terjadi di dekat saya.

Namun Tere Liye, melalui buku BUMI ini bisa meyakinkan saya bahwa cerita fantasi bisa dibawa sedekat mungkin dengan realitas yang ada. Buku ini berkisah mengenai Raib, gadis ceria berumur 15 tahun yang duduk di kelas sepuluh. Kehidupan keluarga Raib cukup harmonis, sekolahnya menyenangkan, dan yang terpenting: dia bisa menghilang. Raib memiliki teman sebangku bernama Seli. Kadangkala dia dan Seli diganggu seorang murid lelaki iseng namun jenius bernama Ali. Tidak ada yang mengetahui mengenai kemampuan Raib untuk menghilang, bahkan orang tua Raib sekalipun.

Hingga suatu kecelakaan di sekolah secara tidak sengaja membuat Raib menunjukkan kemampuannya di depan Seli dan Ali. Kecelakaan tersebut juga membuat Raib, Seli dan Ali harus berhadapan dengan orang – orang yang tidak pernah mereka temui sebelumnya. Orang – orang yang memiliki kemampuan menakjubkan seperti Raib. Orang – orang yang mengetahui asal-usul Raib yang sebenarnya, asal-usul yang bahkan tidak diketahui oleh Raib sebelumnya. Orang-orang yang harus dihentikan ambisinya agar tidak menghancurkan bumi ini. Raib, Seli dan Ali mengalami petualang seru sekaligus berbahaya, yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


“Kita berada di tempat yang sama, tapi dengan sekeliling yang berbeda. Bahkan orang – orang yang berbeda.” ~Ali (halaman 210)

“Dunia yang kita tinggali memang tidak sesederhana yang kita lihat..... Ada empat kehidupan yang berjalan secara serempak di atas planet ini.” ~ Av (halaman. 246)

Ya, buku ini memang bukan sekedar kisah mengenai Raib yang memiliki kemampuan menghilang. Lebih dari itu, dengan diksi – diksi yang mudah dicerna, buku ini mampu memaparkan secara sederhana fenomena mengenai dunia paralel yang (bagi saya) rumit.

Selain plot dan bahasa yang mudah dicerna, kekuatan dari buku ini adalah karakter – karakternya yang menarik. Cerita ini dibangun diatas setting lokal yang saya anggap merupakan gambaran dari Indonesia, lingkungan yang sehari – hari saya tinggali. Karakter-karakter utamanya diberi nama yang cukup Indonesia. Mereka juga mewakili keseharian remaja – remaja Indonesia, yang berangkat sekolah naik angkot, yang jajan bakso kala istirahat, yang disetrap berdiri diluar kelas karena tidak membuat peer. Karakter yang bermuatan lokal tersebut membuat saya merasa terhubung dengan mereka, dan pada akhirnya membuat saya bisa menikmati petualangan mereka, dan secara keseluruhan menikmati cerita fantasi yang biasanya tidak saya sukai.


“Kamu baru saja membuktikan teori ikan buntal, Ali..... ketika terdesak, panik, seekor ikan buntal akan menggelembung besar, berkali lipat ukuran aslinya, duri-durinya berdiri tajam. Ikan buntal mewarisi gen spesial itu. Kekuatan spesial.” ~Raib (halaman 435)

“Apa pun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apa pun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga.” ~Miss Keriting (halaman 85)

Buku ini layak dibaca, bahkan bagi yang tidak menyukai teori – teori rumit dunia paralel dan perebutan kekuasaan. Buku ini mengalir ringan. Nampaknya buku ini akan memiliki sekuel, karena pada sampul belakang terdapat kalimat ‘Buku pertama dari serial “BUMI”. Saya penasaran ingin segera membaca serial berikutnya.

Sumber: Blossombatman (via Gramedia)

Laskar Pelangi - Andrea Hirata



KISAH HEROIK 11 ANAK BELITONG
Dinova Putra


Judul : Laskar Pelangi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2008
Tebal : XVIII + 534 Halaman 20,5

Ini adalah kisah heroik kenangan 11 anak Belitong yang tergabung dalam "Laskar Pelangi": Syahdan, Lintang, Kucai, Samson, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Mahar, Flo dan sang penutur cerita – Ikal. Andrea Hirata, yang tak lain adalah Ikal, dengan cerdas mengajak pembaca mengikuti tamasya nostalgia masa kanak-kanak di pedalaman Belitong yang berada dalam kehidupan kontras: kaya dengan tambang timah, tapi rakyatnya tetap miskin dalam kesehariannya.

Ini adalah cerita tentang semangat juang menyala-nyala dari anak-anak kampung Belitong untuk mengubah nasib melalui sekolah, yang harus mereka dapat dengan terengah-engah. Sebagian besar orang tua mereka lebih suka melihat anak-anaknya bekerja membantu orang tua di ladang, atau bekerja menjadi buruh kasar di PN Timah, daripada sekolah yang tak jelas masa depannya.

Derita sekolah itu tergambar jelas ketika SD Muhammadiyah di kampung miskin itu terancam tutup kalau murid baru sekolah itu tidak mencapai 10 orang. kesebelas anak itulah yang telah menyelamatkan masa depan suar pendidikan yang hampir redup digilas ekonomi.

Kesebalas anak itu memiliki keunikan masing-masing. Diantara 11 anak Laskar Pelangi itu, Lintang dan Mahar adalah 2 diantara yang paling menonjol. Lintang jenius dalam bidang eksakta, Mahar ahli di bidang seni budaya. Mereka seolah mewakili otak kanan dan otak kiri manusia. Lintang memiliki semangat juang yang tiada tara dalam belajar. Dia rela menempuh perjalanan dengan kereta angin sejauh 80 km pergi pulang demi dapat memuaskan dahaga ilmu pegetahuan. Saking semangatnya hingga akan tercium karet terbakar dari sepatunya yang aus digerus pedal sepeda. Jika ada aral melintang di jalan dan terlambat sampai sekolah, tiada masalah baginya, asal dapat menyanyikan lagu "Padamu Negeri" pada akhir jam pelajaran.

Novel Laskar Pelangi penuh dengan taburan wawasan yang luas bak samudra dari penulisnya yang paham betul tentang ilmu eksakta, seni budaya, dan humaniora. Kita akan dibuat tersenyum geli dari humor kecil yang dilontarkannya, terharu dan bahkan menangis ketika membaca kisah heroik kesebelas anak Laskar Pelangi.

Filicium adalah pohon yang menjadi saksi seluruh drama kehidupan Laskar Pelangi. Pohon itu menaungi sekolah mereka yang hampir roboh. Pohon itu menjadi markas setiap pertemuan mereka: membicarakan soal-soal di sekolah, merancang karya untuk festival 17 Agustus, atau tempat Lintang memberi kuliah tentang ilmu fisika. Pohon itu pulalah yang menjadi saksi kerinduan Ikal pada gadis manis keturunan cina, anak pemillik toko Sinar Harapan yang memiliki jari lentik dan kuku cantik.

Anak-anak Laskar Pelangi itu hidup dalam kebahagiaan masa kecil dan menyimpan mimpi masing-masing untuk hari esok. Tapi siapa yang sanggup melawan sang nasib? Dua belas tahun kemudian, Ikal menyaksikan perubahan nasib teman-temannya yang sungguh diluar dugaan. Sang nasib sungguh menjadi sebuah misteri yang maha gelap. Anak-anak Laskar Pelangi itu boleh punya cita-cita setinggi langit, tapi nasib jualah yang menentukan episode kehidupan mereka selanjutnya. Sang nasib bisa jadi adalah ketiadaan kepedulian pemerintah akan bibit-bibit unggul mutiara anak bangsa yang harus terhempas oleh himpitan ekonomi. Mereka adalah anak-anak harapan bangsa yang terpaksa harus tunduk oleh gilasan nasib yang semestinya bisa diupayakan oleh pemerintah yang punya amanah dan kuasa untuk memajukan pendidikan.

Lintang, sang jenius itu misalnya kini harus terpuruk jadi sopir tronton karena harus menjadi tulang punggung keluarga, menjadi pengganti ayahnya. Tapi Lintang punya jawaban, " jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tidak jadi nelayan…." Bagi Ikal, kata-kata itu semakin menghancurkan hatinya, ia marah, kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Ia mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.

Keunggulan Novel
Kekuatan novel ini terletak pada sentilan humaniora tentang pentingnya pendidikan sekolah dan sekaligus kuatnya moral agama. Novel ini wajib baca bagi generasi muda yang terlena dengan gelimang kemudahan ekonomi dan tak lagi kenal jerih payah untuk menggapai masa depan. Novel ini juga wajib baca bagi para pendidik, bagi pemerintah yang selalu alpa pada pentingnya pendidikan. Buah dari kealpaan itu diantaranya adalah, kini kita menjadi bangsa yang sering menjadi bahan olok-olok oleh bangsa lain, karena kita rajin mencetak manusia yang tak punya kualitas.

Dapat menjadi cerminan pembaca agar dapat mengambil contoh betapa pentingnya pendidikan untuk meraih cita-cita. Dapat memicu pembaca agar tetap semangat dan berjuang untuk meraih prestasi guna memajukan bangsa agar lebih baik. Terdapat nilai yang patut untuk dicontoh agar menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Memberitahukan kepada kita bahwa guru benar-benar seorang pahlawan yang tanpa tanda jasa demi mencerdaskan anak didiknya dan selalu memberikan yang terbaik.

Kelemahan Novel
Kelemahan novel ini, menurut saya, hanya terletak pada cara mengakhiri cerita. Semestinya, novel ini sudah ditutup pada bab 33: Anarkonisme, yang menceritakan kejatuhan Babel (Bangka Belitung) yang dulu bergelimbang Timah. Bab 34: Gotik, menurut saya menjadi ekor cerita yang membingungkan. Karena penutur "Aku" secara tiba-tiba menjadi orang lain, dan bukan lagi Ikal. Bab 34 ini menjadi sebuah kemubaziran. Sama persis seperti seorang pelukis yang seharusnya berhenti menguaskan catnya pada bidang lukis yang sudah sempurna, tapi kemudian menjadi berantakan karena sebuah goresan yang tidak perlu.

Kata-kata yang digunakan kurang menunjukan bahwa tokoh adalah seorang anak, yang seharusnya tiak melakukan kewajibannya untuk membantu pamannya.

Mengapa tokoh ikal di dalam cerita tidak berkesinambungan dengan isi novel yang lainnya. Seharusnya bisa digunakan nama yang lainnya.

Kesimpulan
Dari novel yang di buat oleh Andre Hirata ini, saya dapat mengambil beberapa pelajaran hidup yang penting, salah satunya kita harus benar-benar menghargai hidup, menghargai semua pemberian Tuhan, tidak pantang menyerah bila menginginkan sesuatu, dan tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita mau dan berusaha. Dan satu lagi, pintar tidak menjamin kita untuk selalu sukses, seperti cerita pada tokoh lintang, dia anak yang pintar, namun diakhir cerita dia menjadi seorang supir truk, disini saya dapat mengambil kesimpulan, bahwa semua kehidupan manusia sudah ada yang mengaturnya, yaitu Tuhan. Semua yang kita kerjakan tidak lepas dari campur tangan Tuhan.

Sumber: Dinova Putra

Kisah 47 Ronin - John Allyn



KISAH 47 RONIN
@h_tanzil


Judul : Kisah 47 Ronin
Judul Asli : The 47 Ronin Story
Penulis : John Allyn

Penerjemah : Teresa Dewi
Penerbit : Matahati
Cetakan : I, Maret 2007
Tebal : 311 halaman
Harga : Rp. 47.000,-

Kisah 47 Ronin karya John Allyn adalah fiksi sejarah yang ditulis berdasarkan peristiwa yang pernah terjadi di Negara Matahari Terbit. Sejarah mencatat, pada tahun 1703, empat puluh tujuh ronin yang dipimpin oleh Ōishi Kuranosuke Yoshitaka menyerang rumah kediaman pejabat tinggi istana Kira Kōzuke no Suke Yoshihisa guna membalas dendam kematian majikan mereka yang bernama Asano Takumi no Kami.

Ronin adalah sebutan untuk samurai yang kehilangan atau terpisah dari tuannya di zaman feodal Jepang (1185-1868). Samurai menjadi kehilangan tuannya ketika tuannya mati, atau akibat hak atas wilayah kekuasaan sang tuan dicabut oleh pemerintah. Samurai yang tidak lagi memiliki tuan tidak bisa lagi disebut sebagai samurai, karena samurai adalah "pelayan" bagi sang tuan. Dalam tradisi samurai, ronin memiliki derajat dibawah samurai. Bagi seorang ronin hanya ada dua pilihan, yaitu menjadi orang bayaran atau turun pangkat dalam kemiliteran.

Ada banyak kisah pembalasan dendam ronin terhadap kematian tuannya, namun yang paling terkenal dan menjadi legenda nasional Jepang adalah ‘Kisah 47 Ronin’. Di Jepang sebelum Perang Dunia II, kisah ini umum dikenal sebagai Akōgishi (Perwira Setia dari Ako) dan dijadikan teladan kesetiaan samurai terhadap majikannya. Seusai Perang Dunia II, kisah ini lebih dikenal sebagai Akō rōshi (ronin dari Akō) atau Shijūshichishi (47 samurai). Kisah ini kemudian ditulis kedalam sebuah novel oleh penulis Jepang Osaragi Jirō yang kemudian diangkat menjadi drama televisi. Selain itu kisah kepahlawan ini kerap dipentasakan di teater tradisional Jepang (Kabuki).

Di dunia barat kisah ini dikenal dengan sebutan Forty-seven Ronin atau Forty-Seven Samurai. Walau fakta sejarahnya jelas, namun keterangan rinci tentang peristiwa ini sangat kabur. Kisah ini memiliki berbagai versi dan sudut pandang. Salah satunya versi John Allyn, yang mengangkat kisah 47 ronin kedalam sebuah novel yang cetakan pertamanya terbitkan pada tahun 1970.

Dalam novelnya John Allyn menulis kisah ini dengan sudut pandang Oishi sebagai tokoh sentralnya. Allyn memulai novelnya dengan mendeskripsikan situasi di Jepang di di awal abad ke-18, dimana Istana Shogun marak dengan pameran kemewahan, korupsi, serta pesa pora. Kesenian berkembang dengan pesat, kelas pedagang semakin berkuasa sehingga pengaruh prajurit dan samurai mulai berkurang. Saat itu diterapkan pula Undang-undang Pelestarian Hidup yang melarang mahluk hidup (termasuk binatang). Hal ini merugikan petani karena tak seorangpun diperbolehkan membunuh binatang termasuk binatang hama. Hasil bumi menjadi merosot sehingga membuat Jepang di tepi jurang kehancuran ekonomi.

Dalam situasi seperti inilah Lord Asano, seorang daimyo dari Ako yang bersikap kritis terhadap pemerintahan Shogun diundang ke Istana Shogun Tsuyanoshi untuk menghadiri upacara kenegaraan. Lord Asano adalah samurai sejati. Ia tak suka dengan kemewahan upacara istana, namun sebagai seorang daimyo yang setia terhadap Shogun Tsunayoshi ia tetap menghadirinya.

Kira, seorang pejabat istana betindak sebagai Pemimpin Upacara untuk semua acara di istana. Ia dikenal sebagai pejabat yang korup dan memanfaatkan jabatannya untuk mengambil keuntungan bagi siapa yang berhubungan dengannya. Lord Asano membenci Kira, begitupun Kira menganggap Lord Asano adalah samurai sejati yang jujur dan dididik dengan cara lama sehingga menjadi ancaman bagi gaya hidupnya.

Ketika upacara berlangsung Kira menghina Lord Asano. Tersinggung dengan ucapan Kira, Asano menyerang Kira hingga terluka. Akibatnya Asano ditangkap dan dipaksa melakukan seppukku, mati dengan merobek perut sendiri dan diakhiri dengan kepala yang terpancung. Setelah itu kastil dan wilayah kekuasaan Asano di Ako harus diserahkan pada Shogun. Para pengikut Lord Asano yang dipimpin oleh Oishi tak menerima kematian yang menimpa pemimpinnya. Otomatis mereka menjadi Ronin dan segera berkumpul untuk membalas dendam. Saat itu terkumpul sekitar 300 ronin.

Namun Oishi tidak larut dalam emosi dan gegabah mengambil tindakan, dan lagi undang-undang melarang perbuatan balas dendam. Ketika teman-temannya memilih untuk mempertahankan kuil Asano dan segera membalas dendam kematian pemimpinnya, dengan kepala dingin Oishi memilih untuk patuh pada Undang-undang. Membiarkan kuil diambil alih secara damai sambil mengajukan petisi kepada Shogun untuk menuntut keadilan.

Waktu berlalu tanpa ada kejelasan atas petisi tersebut. Para Ronin hidup secara terpisah dan menjalani aktifitasnya masing-masing. Oishi sendiri hidup bersama seorang geisha dan selalu berada dalam intaian mata-mata Kira. Dua tahun berlalu sejak kematian Lord Asino, saat pembalasan dendam para Ronin untuk membela kehormatan pemimpinnya akhirnya tiba. Setelah melalui ujian waktu dan kesabaran , Oishi berhasil mengumpulkan kawan-kawannya, namun jumlah ronin yang memiliki tekad untuk membalas dendam kematian Asano semakin menyusut hingga akhirnya hanya 47 Ronin yang tersisa dan bersumpah uintuk melakukan balas dendam yang kelak akan dikenal sebagai peristiwa balas dendam paling berdarah dalam sejarah kekaisaran Jepang.

Novel ini ditulis dengan menarik, sedari awal pembaca akan dibawa pada satu pertanyaan besar, berhasilkan ke 47 ronin membunuh Kira yang menyebabkan kematian pemimpinnya ?. Bagi mereka yang mengetahui sejarah Jepang tentu saja ini bukan pertanyaan karena sejarah telah mencatat bagaimana akhir dari peristiwa berdarah ini. Namun kisah ini tetap menarik karena seperti diungkap diatas banyak sekali versi dari kisah ini, dan pembaca yang ‘melek’ sejarah tetap akan dibuat penasaran bagaimana kisah ini menurut versi John Allyn. Sehingga bagi siapapun novel ini tetap menarik dan menggiring pembacanya untuk segera sampai pada halaman terakhir.

Sayang profil John Allyn, tak terdapat dalam buku ini. Siapa John Allyn dan darimana ia memperoleh sumber-sumber untuk menulis novelnya ini ? Jika memang dalam buku yang menjadi sumber terjemahan novel ini tak ada keterangan apapun tentang penulisnya, tentunya penerbit bisa mencarinya dari sumber-sumber lain.

Selain itu yang agak disayangkan, buku ini tak menyertakan peta dimana kejadian ini berlangsung. Padahal dengan adanya sebuah peta, pembaca akan lebih memahami isi novel ini terutama dari segi geografisnya. Misalnya pembaca akan lebih mengetahui dimana Ako tempat Oishi dan Lord Asano berasal, berapa jauh letaknya dari Edo. dll.

Terlepas dari kekurangan di atas, novel ini sangat layak dibaca oleh siapapun yang ingin mengetahui sepenggal sejarah Jepang. Walau tema utama novel ini adalah balas dendam, bukan berarti novel yang kental dengan aroma sejarah ini sarat dengan kekerasan. Tebasan tajamnya pedang samurai/ronin hanya akan ditemui di awal dan akhir novel ini.

Diantara bagian itu pembaca akan disuguhi aneka peristiwa yang memperkaya pembacanya baik dari sejarah, kultur kekaisaran jepang di awal abad ke 18, semangat kesatriaan para samurai / ronin dalam menegakkan kehormatan, kesetian dalam pengabdian, kesabaran dan strategi dalam menghadapi musuh, dll. Semua itu mewarnai novel ini sehingga tak heran Prof. Dr. I. Ketut Surajaya dalam endorsmentnya mengatakan bahwa buku ini akan memberikan pesan moral yang baik bagi pembacanya tentang kesabaran, kesetiaan, dan pengorbanan yang ditegakkan melalui ajaran Bushindo.

Di tengah serbuan novel-novel terjemahan berlatar negara-negara barat, tampaknya kehadiran novel-novel dengan setting Asia atau Jepang akan membawa angin segar dan pilihan yang lebih beragam bagi para pembaca buku tanah air. Dan jangan lupa seperti karakteristik novel-novel berlatar sejarah Jepang lainnya (Musashi, Klan Otori, dll), novel ini mengandung muatan filosofis yang tinggi. Hal yang perlu dibaca dan dicerna oleh pembaca buku di indonesia.

Sumber: h_tanzil

Inferno (Neraka) - Dan Brown




KARYA SASTRA YANG NYARIS SEPERTI KITAB SUCI
Saladbowldetrois


"Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral."

Robert Langdon terbangun di sebuah rumah sakit di Florence dengan keadaan kepala berjahit dan amnesia cukup parah. Langdon kehilangan ingatan jangka pendeknya yang merupakan alasan mengapa ia bisa tiba di Florence dengan keadaan seperti itu.

Dalam keadaan cukup panik, Langdon juga dikejutkan dengan kenyataan bahwa dirinya juga dijadikan target oleh seorang pembunuh bayaran serta sepasukan lengkap berseragam hitam milik pemerintah. Dengan bantuan seorang dokter yang bernama Sienna, Langdon pun mengetahui bahwa dirinya membawa suatu benda yang menjadi kunci dari seluruh perjalanan anehnya ini.

Benda itu berbentuk stempel kuno yang memberikan sebuah petunjuk, dimana seluruh rangkaian kejadian ini berhubungan dengan salah satu mahakarya terhebat yang pernah diciptakan. Rangkaian puisi karya Dante Alighieri yang berjudul Inferno (neraka).

Tak jauh dari rumah sakit tempat Langdon dirawat, enam hari yang lalu ditemukan jasad seorang laki-laki yang disinyalir menjatuhkan dirinya dari puncak salah satu menara paling terkenal di Florence. Dan laki-laki tersebut merupakan salah satu klien terpenting dari sebuah organisasi paling rahasia di seluruh dunia, Konsorsium.

Lalu apa hubungan antara pemerintah denga organisasi tersebut? Dan bagaimana Langdon pada akhirnya mampu mengetahui arti dibalik semua petunjuk yang diberikan oleh stempel kuno tersebut?

Buku terbaru karya Dan Brown ini sekali lagi menawarkan penulisan yang sangat sangat sangat Dan Brown sekali. Semua alur,cara pengenalan tokoh-tokohnya, konflik yang ditawarkan hingga cara pemecahannya.

Bagi yang sudah pernah membaca The Da Vinci Code maupun Angel & Demon pasti akan mengetahui apa yang aku maksud dengan ‘khas’ Dan Brown tersebut. Sebenarnya hal ini cukup membuat agak sedikit bosan di awal, namun sekali lagi buku ini masih sangat menarik untuk diikuti.

(Apa mungkin aku bias ya? Hahahaha)
Inferno sendiri adalah bagian pertama dari mahakarya seorang penyair besar yang bernama Dante Alighieri yang berjudul The Divine Comedy (Komedi Ketuhanan). Sedangkan bagian kedua berjudulPurgatorio (Penebusan) dan bagian ketiga berjudu Paradiso (Surga).

Meskipun berjudul komedi, namun The Divine Comedy ini sama sekali bukan karya yang berisi lelucon.Komedi di sini lebih diartikan karena Dante menuliskannya dengan bahasa Italia modern atau lebih dikenal dengan bahasa rakyat.

Karena pada jaman itu, semua karya yang menggunakan bahasa modern akan dianggap kurang sopan atau dalam hal ini disebut sebagai bahasa kelas dua. Maka dari itu disebut sebagai bahasa komedi (lelucon) yang sering dipakai sehari-hari.

Namun justru dikarenakan bahasanya yang mudah dimengerti maka pesan-pesan yang disampaikan oleh buku ini menjadi sangat mudah terpatri di dalam benak setiap orang yang membacanya.

Bahkan menurut sejarahnya setelah buku ini terbit, Inferno menjadi semacam pengingat akan dosa yang harus dihindari. Dan dengan detail neraka versi Dante, banyak orang yang kemudian memilih untuk bertobat. Denga kata lain, buku ini lebih efektif mengajak orang untuk ke Gereja daripada Alkitab pada jaman itu.


The Divine Comedy ini konon katanya juga membuat Dante mendapatkan apresiasi yang mendalam dari berbagai macam seniman kelas atas. Bahkan pembuat patung David yang tersohor itu juga ikut menuliskan pendapatnya akan penyair tersebut.

Tidak pernah ada di dunia, orang yang lebih hebat daripada dia.
-Michelangelo

Dante hidup di Florence, Italia dari tahun 1265 sampai dengan tahun 1321. Kehidupan Dante sendiri sebenarnya sangat normal seperti layaknya orang kebanyakan, hingga pada akhirnya ia bertemu dengan seorang wanita bernama Beatrice Portinari yang menjadi cinta matinya seumur hidup dan inspirasi utamanya. Sayangnya cinta Dante bertepuk sebelah tangan karena Beatrice pada akhirnya menikah dengan pria lain.

Inferno adalah bab yang menceritakan perjalanan Dante ke sepuluh tingkat neraka. Dalam karyanya, Dante memakai tiga nama wanita, Virgil, Maria dan Beatrice. Dalam perjalanan ke neraka, Dante ditemani oleh Virgil. Sedangkan perjalanan penebusannya Dante di temani oleh Maria dan dalam perjalanan ke surga ia ditemani oleh Beatrice.

(Pas tau hal ini jujur aku mikir: oh ternyata Dante juga manusia, dia bisa galau, terbukti pas ke surga aja dia bayanginnya sama Beatrice. Ya semacam kata Fadli PADI: meskipun aku di surga… tetap ku tak bahagia, karena itu tanpamu… )

Interpretasi Inferno karya Dante ini kemudian dituangkan oleh salah satu seniman besar yang bernama Botticelli yang melukiskan bagaimana gambaran tingkatan neraka versi Dante. Lukisan yang terkenal dengan nama La Mappa dell’Inferno atau dalam bahasa Inggris disebut dengan: Map of Hell.

Map of Hell karya Botticelli ini digambarkan sebagai irisan-melintang di bumu denga lubang besar berbentuk corong yang kedalamannya tak terhingga. Lubang neraka ini dibagi menjadi teras-teras menurun dengan penderitaan yang semakin hebat. Setiap tingkat dihuni oleh masing-masing jenis pendosa yang tersiksa.

Adapun tingkatan dosa itu diambil dari mnemonik Latin yang diciptakan oleh Vatikan pada Abad Pertengahan untuk mengingatkan umat Kristiani pada Tujuh Dosa Besar. Disingkat dengan nama SALIGIA yang berarti Superbia (kesombongan), Avaritia (keserakahan), Luxuria (hawa nafsu),Invidia (kecemburuan), Gula (kerakusan), Ira (kemarahan) dan Acedia (kemalasan).

(Mungkin karena aku muslim, daripada gambaran Inferno ini buat aku lebih serem buku-saku-siksa-neraka-yang-dulu-terbit-jaman-tahun-90an-itu >_< dan dalam Islam, tujuh dosa besar ini juga termasuk dalam kategori dosa =_= semua agama itu pada hakikatnya selalu mengajak kearah yang benar ^^)

Seperti sebelumnya, kali ini Dan Brown juga mengajak pembacanya untuk menelusuri berbagai macam karya seni yang ada di dunia. Untuk Inferno kali ini, para pembaca akan diajak untuk berjalan-jalan dalam imajinasi di kota tua Florence, Venesia dan berakhir di Turki.

Yang pertama adalah Gerbang Porta Romana yang di jelaskan di Bab 20. Gerbang ini dibangun pada tahun 1320 dan pernah dijadikan sebagai tempat Bazar Kontrak atau Fiera dei Contratti. Dimana pada jaman itu para orang tua seringkali memaksa anak-anak perempuan mereka untuk kawin kontrak dan mendapatkan mas kawin yang tinggi.

Di dalam buku, gerbang ini merupakan tempat pertama dari pelarian Langdon bersama Dokter Sienna ketika dikejar oleh pembunuh bayaran.

Di bab 21, para pembaca akan bertemu dengan dengan lukisan karya seniman Vasari yang dibuat pada tahun 1563 dan tergantung di Palazzo Vecchio, Florence. Lukisan ini menyimpan misteri akan arti kata Cerca Trova (cari dan temukan) yang hanya bisa dilihat dengan memakai binocular(teropong). Kata-kata inilah yang menjadi inspirasi Langdon pertama kali akan misteri yang ia pecahkan.

Bab 27 akan banyak menceritakan tentang istana keluarga Medici. Keluarga bangsawan kaya raya yang berjaya hingga empat abad namun pada akhirnya harus mengangalami kebangkrutan di akhir tahun 1700 atau abad ke delapan belas.

Istana keluarga Medici menjadi tempat persembunyian Langdon ketika dikejar oleh para tentara berseragam hitam. Mulai dari Institut Seni, Boboli Garden dan pada akhirnya bersembunyi di gua buatan.

Bab 37 menceritakan tentang kunjungan Langdong ke Palazzo Vecchio. Memasuki The Hall of Five Hundred, berjalan terus ke arah Lo Studiolo untuk bisa melihat secara dekat muka asli Dante Alighieri yang tercetak dalam topeng kematiannya sendiri. Dengan menemukan topeng kematian Dante, pada akhirnya satu persatu misteri mulai terkuak.

Bab 51 akan mengajak pembaca ke dalam Museo Casa Di Dante kemudian berlanjut ke rumah suci Chiesa atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Dante yag terletak di Santa Margherita dei Cerchi.

Pada Bab 53 para pembaca akan bertemu dengan pusat spiritual kuno di Florence, yaitu Katedral Santa Maria del Fiore atau yang lebih dikenal dengan julukan Il Duomo.

Bab 72 pembaca akan bertemu dengan Basilika Santo Markus dengan keempat patung kuda perunggunya yang merupakan salah satu hasil dari jarahan saat perang salib berlangsung.

Disinilah pada akhirnya Langdon benar-benar memahami semua misteri yang dimaksud. petunjuk-petunjuk yang pada akhirnya membuat ia sadar bahwa terjadi kekeliruan dalam pemikirannya.

Kuda perunggu Santo Markus. Kalung leher yang dipakai oleh kuda disinyalir sebagai penyangga kepala Kuda yang sengaja di potong agar mudah di bawa di dalam kapal saat dibawa kembali ke Venesia

Kemudian perjalanan di lanjutkan ke negara tempat persimpangan timur dan barat berlangsung. Negara sekuler dimana semua kepercayaan barat dan timur bisa berdiri bersebelahan.

Perjalanan ke Istanbul, Turki yang pertama adalah melewati Blue Mosque, kemudian Hagia Sophiadan berhenti pada waduk kuno Yerebatan Sarayi (Istana yang Tenggelam).

Sama seperti buku terdahulunya, Dan Brown selalu berhasil menggabungkan apa yang menjadi issue yang sekarang lagi marak dibicarakan dengn hal-hal yang berkaitan dengan symbol dan sejarah. Membuat para pembacanya seakan-akan benar mempercayai bahwa apa yang tertulis di situ adalah benar adanya.

Saking tipisnya perbedaan antara fiksi dengan fakta yang disajikan, kita sebagai pembaca harus benar-benar jeli. Namun untuk buku Inferno kali ini perbedaanya masih bisa diketahui. Karena issue yang dibahas itu sangatlah bertolak belakang dengan karya sastra Dante yang menjadi patokan.

Buat aku pribadi, menghabiskan 639 halaman dalam lima hari itu termasuk cukup panjang. Kenapa? Karena ya seperti yang aku bilang di awal menurutku ini agak sedikit cukup bertele-tele. Ditambah dengan beberapa istilah yang membuat aku harus membacanya berulang-ulang baru bisa aku cerna.

Ya ditambah waktu kerja yang selalu sampai malam, jadi bacanya juga curi-curi waktu. Dari segi terjemahan menurutku ini bagus. Tidak membuat bingung dan bisa dibaca dengan mudah. Istilahnya tidak membuat orang berfikir untuk membaca versi aslinya karena bingung akan bahasa terjemahan yang dipakai.

Yang paling aku suka adalah di bagian akhirnya, dimana diselipkan banyak sekali pemikiran mengenai issue yang dibahas. Pembaca diajak untuk ikut lebih peka terhadap hal-hal disekitar terutama untuk daerah abu-abu kehidupan. Lalu mengenai teori penyangkalan serta hal-hal yang memang menjadi polemik tersendiri hingga saat ini dan dapat dijadikan sebagai sebuah renungan.

Mengenai teori apa yang dibahas atau konsep apa yang dipakai dalam buku ini sebenarnya aku pengen banget buat jelasin, tapi aku pikir itu akan menjadi spoiler yang tidak terbantah. Karena justru itu yang menjadi kunci dari misteri yang dibahas dalam buku ini, jadi lebih baik bila dibaca sendiri hehehe.

Yang pasti Dan Brown juga mengaitkan cerita ini dengan wabah hitam atau yang lebih dikenal dengan The Black Death. Wabah ini terjadi pada tahun 1348 ~ 1350 dan menewaskan 75 ~ 200 juta warga Eropa, atau sekitar hampir 60% populasi.

Seperti biasa, Brown juga tetap menyelipkan karakter Langdon yang memang diceritakan seorang Darwinian. Atau seseorang yang lebih meyakini fakta daripada sebuah keyakinan akan agama. Meskipun pekerjaan Langdon adalah seorang ahli simbol yang rata-rata selalu berkaitan dengan simbol keagamaan.

Dari sini banyak pembaca setia Brown yang secara tidak langsung meyakini bahwa Brown sebenarnya ingin menunjukkan sedikit pembangkangan terhadap Vatikan. Yang mana sudah ia lakukan semenjak jaman kontroversi akan sifat keilahian Yesus dalam buku The Da Vinci Code.

Kesimpulannya buku ini sangat direkomendasikan buat yang suka fiksi sejarah. Hanya saja aku berharap Dan Brown dikedepannya bisa membuat yang setara dengan The Da Vinci Code. Namun paling tidak dengan harga seratus dua puluh lima ribu aku bisa menutup buku dengan puas untuk kali ini.

Last, kutipan pembuka di atas adalah kunci dari seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi. Dimana jika di telaah lebih lanjut kalimat itu akan berbunyi:

Dalam masa berbahaya (krisis) tidak ada dosa yang lebih besar daripada tetap diam.