Search This Blog

Showing posts with label TeenLit. Show all posts
Showing posts with label TeenLit. Show all posts

Saturday, April 5, 2014

Salad Days - Shelly Salfatira

PESAN ELEGAN DARI SEBUAH BUKU TEENLIT
Dedul Faithful


Judul: Salad Days
Penulis: Shelly Salfatira
Penerbit: Gramedia

Harga: Rp. 38.000
Terbit: Juli 2013
Ukuran: 13.5 x 20
Cover: Softcover

Ini adalah kali pertama saya membaca teenlit GPU. Dan untungnya usia saya belum terlalu tua untuk mengikuti seluruh fitur dalam buku semacam ini. Kisah dalam Salad Days ternyata membuat saya menyadari bahwa tidak selamanya buku berlabel remaja mengedepankan kisah percintaan ala SMA atau anak kuliahan awal, melainkan lebih dari itu di dalam buku ini, semoga juga di buku-buku lainnya, menyimpan pesan tersirat yang elegan, tentang ambisi meraih mimpi, bagaimana cara mempertahankan persahabatan, rela berkorban, dan belajar mempersiapkan masa depan.

Dalam buku Salad Days, Shelly Salfatira sebagai dalang di balik alur cerita, menghadirkan sosok Azmarie Greta alias Greta, seorang gadis energik pencinta olahraga basket yang cantik, pintar, dan istimewa karena sikapnya yang rendah hati, tidak pernah menampakkan kekayaannya. Terlalu unbeliveable, atau too good to be true, namun untungnya Shelly Salfatira berhasil menghasilkan karakter yang mendekati 'dewa' itu menjadi manusia seutuhnya kala konflik mulai bergulir dan kepentingan masing-masing karakter bertabrakan satu sama lain.

Victoria Hanna alias Hanna adalah satu-satunya sahabat perempuan Greta di sekolah, dia adalah teman yang sangat Greta percaya, sedangkan teman tim basket Greta yang lain tak terlalu dekat dengan Greta meski team work mereka solid, dan tentu saja tak terlalu disorot dalam buku ini. Sikap Hanna yang kontras dengan Greta membuat Hanna menjadi seperti potongan puzzle yang dapat klop dengan Greta. Hanna digambarkan sebagai gadis manis yang tingginya lebih pendek dari Greta, pemalu, introvert, dan meskipun tak secerdas Greta dia mampu menjadi teman yang setia bagi Greta. Namun, siapa yang sangka masalah beruntun akan terjadi karena Hanna? Setelah kehadiran murid baru bernama Dirga.

Dirga pun salah satu sosok yang digambarkan penuh kesempurnaan, teknik 'too good to be true' kembali muncul di sini. Digambarkanlah sosok Dirga sebagai cowok kharismatik, dingin, jago basket, tinggi, putih, dan kaum jetset. Serupa dengan tokoh Patrick, namun sikap Patrick yang lebih extrovert tetapi cenderung ragu-ragu dalam mengambil keputusan, menegaskan bahwa dirinya memang berbeda dengan Dirga. Sedangkan Boy, adalah teman tapi mesranya Greta, namun yang membuatnya unik adalah dia pendek namun kualitas permainan basketnya super. Dan yang paling penting adalah tingkat kejailannya yang selevel dengan Greta.

Masalah terjadi saat Greta sudah memendam rasa kesal saat pertemuan kali pertama dengan Dirga. Dan kekesalan berkali-kali muncul saat Dirga direkrut oleh Patrick dan Boy masuk tim inti basket. Namun, puncaknya adalah saat Dirga mengambil perhatian Hanna, yang notabene sahabat lengket Greta, dia satu-satunya tokoh dalam buku ini yang bukan anggota eskul basket.

Benci berubah cinta, cinta segitiga, cinta diam-diam, teman tapi mesra, semuanya komplit ada dalam buku ini. Dengan penuturan yang pas plus cerita berjalan lewat berbagai sudut pandang sekaligus, teenlit ini seolah-olah menampakkan nuansa yang berbeda, sekaligus menunjukkan kelasnya sebagai buku remaja berkualitas. Saya memang tidak sedang membuat citra teenlit ini melambung, namun memang benar adanya ketika saya sampai di akhir halaman buku ini, ending-nya tidak terduga sama sekali. Melengkapi semua poin-poin excelent yang telah saya sebutkan sebelumnya.

Resensi buku terbaru, resensi buku best seller,

Ketika plot cerita buku teenlit ini mengalami pengembangan ide yang cukup menarik, saya sadar buku ini diolah dengan matang. Greta yang semula benci jadi cinta pada Dirga, mungkin itu pengembangan plot yang pasaran, namun bagaimana jika Dirga pun mencintai Greta? Lalu, Hanna yang tidak peka pada rasa cinta Greta, ia menganggap Greta tak punya hubungan apa-apa dengan Dirga. Sedangkan Dirga, sebagai cowok yang masih punya belas kasihan, ia selalu membuat Hanna tampak spesial, karena ternyata Hannah adalah teman masa kecilnya. Dan hal itu adalah hal yang membuat Greta kecewa saat Dirga dan Hanna tak kunjung berbicara jujur. Pada akhirnya semua tokoh menelan pil pahit, bahkan Patrick yang juga menaruh perasaan pada Greta, ia tidak dapat meraihnya walau jemarinya saja, sedangkan Boy tetap dengan status 'teman tapi mesranya' Greta. Namun, tenang saja, itu bukan akhir dalam buku ini.

Saya merasa sangat puas membeli teenlit GPU satu ini. Menumbuhkan niat untuk membeli yang lainnya, dalam genre yang sama. Karena buku Salad Days tak melulu seputar patah hati, cinta diam-diam, cinta segitiga, dan meraih cita-cita, namun segala hal seputar basket menjadi background besar dalam tiap detail diksi yang termaktub dalam Salad Days. Mengingatkan saya pada FTV Lovasket, yang lagi-lagi membuat saya tercengang karena memang FTV itu diadaptasi dari teenlit GPU, meski saya belum pernah baca.

Semoga GPU tetap akan menerbitkan buku-buku semacam ini. Karena buku-buku semacam ini sepertinya sungguh memberikan pesan inspiratif yang tak menggurui dalam bingkai warna-warni remaja yang rasanya beraneka ragam dan tentu saja tak menjemukan. Melengkapi khasanah sastra Indonesia yang patut untuk tak dilewatkan eksistensinya.

Sumber: Dedul Faithful (via Gramedia)

Malam Karnaval Berdarah (Lexie Xu)




MALAM KARNAVAL BERDARAH
Erison



Judul: Malam Karnaval Berdarah
Penulis: Lexie Xu

Harga: Rp. 75.000
Terbit: Februari 2014
Ukuran: 13.5 x 20
Tebal: halaman
Cover: Softcover

Setelah Johan Series yang sukses, Lexie Xu hadir kembali dengan Omen Series, dan buku yang akan dibahas adalah buku terbaru dari Omen Series, yaitu buku ke-4 berjudul Malam Karnaval Berdarah. Lexie Xu adalah penulis yang sangat produktif dengan jarak terbit antar buku karyanya yang tidak terpaut jauh. Bukan berarti kualitas ceritanya jelek—tentu saja. Sejak Obsesi diterbitkan, saya sudah menobatkan diri sebagai salah seorang dari Lexsychopaths—nama fans club Lexie Xu. Setiap ada novel yang memejeng nama Lexie Xu di depan kover, tanpa baca sinopsis, sudah saya sambar saja dari rak. Untuk kali ini, saya merasa kecewa dengan eksekusi dari Malam Karnaval Berdarah. Jika dibandingkan dengan kakak-kakaknya, memang Malam Karnaval Berdarah yang paling lemah—namun, sekali lagi, bukan berarti jelek, cukup memuaskan malahan. Namun, saya berekspetasi lebih dari apa yang disajikan. Masih terlalu dini untuk menghakimi, karena Omen Series akan berakhir hingga buku ke-7. Well, let’s see.


Malam Karnaval Berdarah kali ini tidak menggunakan point of view dari Erika maupun Valeria, tetapi Rima “Sadako” Hujan dan love interest-nya Daniel Yusman—yang tentunya memberi warna baru terhadap jalannya seri thriller ini. Sesuai dengan judulnya, cerita berawal dengan rencana karyawisata yang akan dilakukan pada tahun ajaran baru untuk pertama kalinya. Memegang jabatan sebagai Ketua OSIS yang baru, Rima tentu saja kebagian untuk mengurus hal ini—dengan Daniel bercokol sebagai Wakil Ketua OSIS. Saat rapat berlangsung, Rima mengajukan usul untuk mengadakan karnaval saja—yang disambut patuh oleh anggota OSIS lainnya. Sayangnya, belum apa-apa, Putri Badai, Hakim Tertinggi The Judges, menerima surat ancaman dari kelompok yang menamai diri sebagai Kelompok Radikal Anti-Judges dengan inti bahwa susunan keanggotaan OSIS harus di-vote ulang karena disinyalir adanya manipulasi suara. Jika tidak, maka sesuatu akan terjadi ketika malam karnaval berlangsung. Persiapan demi persiapan dilakukan Rima—beserta Daniel—meskipun Rima lebih banyak bekerja sendiri. Sampai pada hari-H. Semua sudah dipersiapkan dengan baik. Wahana-wahana yang disediakan juga sudah di-cek dan dioperasikan sebelum karnaval dibuka. Di tengah-tengah karnaval yang sedang meriah dan ramai, sebuah teriakan kencang terdengar dari toilet umum wanita. Satu korban. Korban ditemukan pingsan dengan wajah dirias seperti badut. Tomat ditemplokkan di hidung. Tidak hanya sampai di situ, tubuh korban juga disayat-sayat dengan kejam. Rima mulai khawatir akan terwujudnya ancaman dari Kelompok Radikal Anti-Judges itu. Dengan waktu yang terus berjalan, Rima, Daniel, Putri, beserta konco-konconya berpacu melawan waktu untuk menguak siapa pelaku perbuatan jahanam itu—sementara konflik-konflik lainnya makin mencuat ke permukaan.

Seru sekali mengikuti penyelidikan kasus keempat yang penuh tanda tanya dan petunjuk yang menjebak. Sayangnya, hal itu baru terjadi saat cerita mulai memasuki pembukaan karnaval. Bagian sebelum pembukaan karnaval terkesan diulur dalam mengembangkan kisah romantis antara Rima dan Daniel. Untung di tengah kisah romantis Rima dan Daniel, mulai ditebar misteri-misteri pembuka. Harus diakui, penggunaan sudut pandang yang dibebankan kepada Rima dan Daniel memberikan warna tersendiri. Kita menjadi tahu jauh lebih dalam seluk-beluk cara pemikiran dan kepribadian dari Rima yang unik. Dan juga sisi lain dari Daniel yang kocak, terkadang menyebalkan, sekaligus romantis dan bertanggung jawab. Sayangnya, saya kadang tidak mampu membedakan saya sedang membaca narasi dari Rima atau Daniel. Di bagian awal, saya dapat membedakannya. Namun, semakin lama, saya mulai tidak dapat membedakannya. Saya masih ingat di Teror, novel pamungkas dari Johan Series, dengan begitu banyaknya karakter yang ikut bercerita, Lexie Xu berhasil memberikan ciri khusus tersendiri dalam setiap narasi tokoh yang ada. Tidak seperti novel-novel Omen Series sebelumnya yang membuat saya terpingkal-pingkal dengan narasi dari Erika dengan kepribadiannya yang blak-blakan dan nyeleneh, serta membuat cerita menjadi “penuh”, saya tidak merasakan itu dalam Malam Karnaval Berdarah. Flat. Mungkin itu kata yang tepat. Peralihan sudut pandang dari Erika dan Valeria ke Rima dan Daniel sebenarnya bukan tindakan yang salah. Hanya saja, jika ditilik lebih dalam, kepribadian Rima dan Daniel tidak terlalu jauh berbeda, sehingga tidak terdapat kesan “berbeda”-nya.

Kasus yang menjadi fokus utama pun tidak seseru dan semenegangkan dari 3 pendahulunya. Namun, Lexie Xu kembali—dan selalu—berhasil menyajikan cerita thriller yang membangkitkan rasa penasaran untuk segera membalik halaman hingga halaman terakhir untuk mengetahui siapa pelakunya. Konflik-konflik internal yang muncul juga makin menyemarakkan cerita—dengan twist-twist yang sama sekali tak terduga yang ikutan nongol. Ditambah dengan kehadiran Ajun Inspektur Lukas dengan sosok polisi tegas nan jenaka. Satu lagi, pesan moral yang terkandung dalam cerita yang selalu saya temukan dalam setiap novel Lexie Xu. Jangan lupakan juga kisah romantis antara Rima dan Daniel yang so sweet dan membuat kita ber-ooooohhhhh sekaligus mencak-mencak dan geregetan sendiri.

Suasana yang memacu adrenalin hanya saya rasakan sedikit di sini. Saya masih menjadi penggemar berat dari kekerasan dan pertarungan yang disajikan dalam Omen #1 yang berhasil membuat saya melebarkan mata dan gigit kuku jari—tangan, tentunya, bukan kaki dong. Namun, terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada dalam Malam Karnaval Berdarah (termasuk juga typo yang jumlahnya tidak terlalu banyak), saya sangat menikmati dan menyukai cerita yang ditawarkan Lexie Xu. Selain Erika Guruh, sepertinya saya juga sudah menjadi penggemar dari Rima Hujan. Aah, sulit sekali untuk tidak menjadi penggemar dari Rima Hujan.

Malam Karnaval Berdarah sejujurnya tidak terlalu mengecewakan dengan cerita yang menguak latar belakang tokoh baru untuk membuat kita bersimpati sekalian sebagai jembatan untuk kisah berikutnya, adegan-adegan romantis antara Rima dan Daniel, dan berhasil membuat saya merasakan perasaan “kosong” setelah menuntaskan buku ini.

Way calmer dan terasa flat di beberapa bab, tetapi proses penyelidikan kasus keempat ini dan rahasia-rahasia apa yang terkuak dalam Malam Karnaval Berdarah dari para tokoh, serta kisah romantis Rima-Daniel tentu sama sekali tak boleh dilewatkan begitu saja. Oh, Omen #5, see you as soon as possible!

Sumber: Erison (Gramedia)