Search This Blog

Saturday, April 5, 2014

Kisah 47 Ronin - John Allyn



KISAH 47 RONIN
@h_tanzil


Judul : Kisah 47 Ronin
Judul Asli : The 47 Ronin Story
Penulis : John Allyn

Penerjemah : Teresa Dewi
Penerbit : Matahati
Cetakan : I, Maret 2007
Tebal : 311 halaman
Harga : Rp. 47.000,-

Kisah 47 Ronin karya John Allyn adalah fiksi sejarah yang ditulis berdasarkan peristiwa yang pernah terjadi di Negara Matahari Terbit. Sejarah mencatat, pada tahun 1703, empat puluh tujuh ronin yang dipimpin oleh Ōishi Kuranosuke Yoshitaka menyerang rumah kediaman pejabat tinggi istana Kira Kōzuke no Suke Yoshihisa guna membalas dendam kematian majikan mereka yang bernama Asano Takumi no Kami.

Ronin adalah sebutan untuk samurai yang kehilangan atau terpisah dari tuannya di zaman feodal Jepang (1185-1868). Samurai menjadi kehilangan tuannya ketika tuannya mati, atau akibat hak atas wilayah kekuasaan sang tuan dicabut oleh pemerintah. Samurai yang tidak lagi memiliki tuan tidak bisa lagi disebut sebagai samurai, karena samurai adalah "pelayan" bagi sang tuan. Dalam tradisi samurai, ronin memiliki derajat dibawah samurai. Bagi seorang ronin hanya ada dua pilihan, yaitu menjadi orang bayaran atau turun pangkat dalam kemiliteran.

Ada banyak kisah pembalasan dendam ronin terhadap kematian tuannya, namun yang paling terkenal dan menjadi legenda nasional Jepang adalah ‘Kisah 47 Ronin’. Di Jepang sebelum Perang Dunia II, kisah ini umum dikenal sebagai Akōgishi (Perwira Setia dari Ako) dan dijadikan teladan kesetiaan samurai terhadap majikannya. Seusai Perang Dunia II, kisah ini lebih dikenal sebagai Akō rōshi (ronin dari Akō) atau Shijūshichishi (47 samurai). Kisah ini kemudian ditulis kedalam sebuah novel oleh penulis Jepang Osaragi Jirō yang kemudian diangkat menjadi drama televisi. Selain itu kisah kepahlawan ini kerap dipentasakan di teater tradisional Jepang (Kabuki).

Di dunia barat kisah ini dikenal dengan sebutan Forty-seven Ronin atau Forty-Seven Samurai. Walau fakta sejarahnya jelas, namun keterangan rinci tentang peristiwa ini sangat kabur. Kisah ini memiliki berbagai versi dan sudut pandang. Salah satunya versi John Allyn, yang mengangkat kisah 47 ronin kedalam sebuah novel yang cetakan pertamanya terbitkan pada tahun 1970.

Dalam novelnya John Allyn menulis kisah ini dengan sudut pandang Oishi sebagai tokoh sentralnya. Allyn memulai novelnya dengan mendeskripsikan situasi di Jepang di di awal abad ke-18, dimana Istana Shogun marak dengan pameran kemewahan, korupsi, serta pesa pora. Kesenian berkembang dengan pesat, kelas pedagang semakin berkuasa sehingga pengaruh prajurit dan samurai mulai berkurang. Saat itu diterapkan pula Undang-undang Pelestarian Hidup yang melarang mahluk hidup (termasuk binatang). Hal ini merugikan petani karena tak seorangpun diperbolehkan membunuh binatang termasuk binatang hama. Hasil bumi menjadi merosot sehingga membuat Jepang di tepi jurang kehancuran ekonomi.

Dalam situasi seperti inilah Lord Asano, seorang daimyo dari Ako yang bersikap kritis terhadap pemerintahan Shogun diundang ke Istana Shogun Tsuyanoshi untuk menghadiri upacara kenegaraan. Lord Asano adalah samurai sejati. Ia tak suka dengan kemewahan upacara istana, namun sebagai seorang daimyo yang setia terhadap Shogun Tsunayoshi ia tetap menghadirinya.

Kira, seorang pejabat istana betindak sebagai Pemimpin Upacara untuk semua acara di istana. Ia dikenal sebagai pejabat yang korup dan memanfaatkan jabatannya untuk mengambil keuntungan bagi siapa yang berhubungan dengannya. Lord Asano membenci Kira, begitupun Kira menganggap Lord Asano adalah samurai sejati yang jujur dan dididik dengan cara lama sehingga menjadi ancaman bagi gaya hidupnya.

Ketika upacara berlangsung Kira menghina Lord Asano. Tersinggung dengan ucapan Kira, Asano menyerang Kira hingga terluka. Akibatnya Asano ditangkap dan dipaksa melakukan seppukku, mati dengan merobek perut sendiri dan diakhiri dengan kepala yang terpancung. Setelah itu kastil dan wilayah kekuasaan Asano di Ako harus diserahkan pada Shogun. Para pengikut Lord Asano yang dipimpin oleh Oishi tak menerima kematian yang menimpa pemimpinnya. Otomatis mereka menjadi Ronin dan segera berkumpul untuk membalas dendam. Saat itu terkumpul sekitar 300 ronin.

Namun Oishi tidak larut dalam emosi dan gegabah mengambil tindakan, dan lagi undang-undang melarang perbuatan balas dendam. Ketika teman-temannya memilih untuk mempertahankan kuil Asano dan segera membalas dendam kematian pemimpinnya, dengan kepala dingin Oishi memilih untuk patuh pada Undang-undang. Membiarkan kuil diambil alih secara damai sambil mengajukan petisi kepada Shogun untuk menuntut keadilan.

Waktu berlalu tanpa ada kejelasan atas petisi tersebut. Para Ronin hidup secara terpisah dan menjalani aktifitasnya masing-masing. Oishi sendiri hidup bersama seorang geisha dan selalu berada dalam intaian mata-mata Kira. Dua tahun berlalu sejak kematian Lord Asino, saat pembalasan dendam para Ronin untuk membela kehormatan pemimpinnya akhirnya tiba. Setelah melalui ujian waktu dan kesabaran , Oishi berhasil mengumpulkan kawan-kawannya, namun jumlah ronin yang memiliki tekad untuk membalas dendam kematian Asano semakin menyusut hingga akhirnya hanya 47 Ronin yang tersisa dan bersumpah uintuk melakukan balas dendam yang kelak akan dikenal sebagai peristiwa balas dendam paling berdarah dalam sejarah kekaisaran Jepang.

Novel ini ditulis dengan menarik, sedari awal pembaca akan dibawa pada satu pertanyaan besar, berhasilkan ke 47 ronin membunuh Kira yang menyebabkan kematian pemimpinnya ?. Bagi mereka yang mengetahui sejarah Jepang tentu saja ini bukan pertanyaan karena sejarah telah mencatat bagaimana akhir dari peristiwa berdarah ini. Namun kisah ini tetap menarik karena seperti diungkap diatas banyak sekali versi dari kisah ini, dan pembaca yang ‘melek’ sejarah tetap akan dibuat penasaran bagaimana kisah ini menurut versi John Allyn. Sehingga bagi siapapun novel ini tetap menarik dan menggiring pembacanya untuk segera sampai pada halaman terakhir.

Sayang profil John Allyn, tak terdapat dalam buku ini. Siapa John Allyn dan darimana ia memperoleh sumber-sumber untuk menulis novelnya ini ? Jika memang dalam buku yang menjadi sumber terjemahan novel ini tak ada keterangan apapun tentang penulisnya, tentunya penerbit bisa mencarinya dari sumber-sumber lain.

Selain itu yang agak disayangkan, buku ini tak menyertakan peta dimana kejadian ini berlangsung. Padahal dengan adanya sebuah peta, pembaca akan lebih memahami isi novel ini terutama dari segi geografisnya. Misalnya pembaca akan lebih mengetahui dimana Ako tempat Oishi dan Lord Asano berasal, berapa jauh letaknya dari Edo. dll.

Terlepas dari kekurangan di atas, novel ini sangat layak dibaca oleh siapapun yang ingin mengetahui sepenggal sejarah Jepang. Walau tema utama novel ini adalah balas dendam, bukan berarti novel yang kental dengan aroma sejarah ini sarat dengan kekerasan. Tebasan tajamnya pedang samurai/ronin hanya akan ditemui di awal dan akhir novel ini.

Diantara bagian itu pembaca akan disuguhi aneka peristiwa yang memperkaya pembacanya baik dari sejarah, kultur kekaisaran jepang di awal abad ke 18, semangat kesatriaan para samurai / ronin dalam menegakkan kehormatan, kesetian dalam pengabdian, kesabaran dan strategi dalam menghadapi musuh, dll. Semua itu mewarnai novel ini sehingga tak heran Prof. Dr. I. Ketut Surajaya dalam endorsmentnya mengatakan bahwa buku ini akan memberikan pesan moral yang baik bagi pembacanya tentang kesabaran, kesetiaan, dan pengorbanan yang ditegakkan melalui ajaran Bushindo.

Di tengah serbuan novel-novel terjemahan berlatar negara-negara barat, tampaknya kehadiran novel-novel dengan setting Asia atau Jepang akan membawa angin segar dan pilihan yang lebih beragam bagi para pembaca buku tanah air. Dan jangan lupa seperti karakteristik novel-novel berlatar sejarah Jepang lainnya (Musashi, Klan Otori, dll), novel ini mengandung muatan filosofis yang tinggi. Hal yang perlu dibaca dan dicerna oleh pembaca buku di indonesia.

Sumber: h_tanzil

Sperma Airmata - Tandi Skober





LUKA KULTURAL DALAM SPERMA AIRMATA

Pungkit Wijaya



Judul: Sperma Airmata
Penulis: Tandi Skober
Penerbit: SkylArt Publisher
Tahun: 2012

Danarto, sempat berujar bahwa “saya percaya, tema dan jalan cerita bukanlah yang terpenting. Yang paling utama dari cerita pendek adalah cara bertutur yang memikat” kepercayaan Danarto sebagai cerpenis kenamaan sastra Indonesia tersebut diungkapkannya dalam kata pengantar buku kumpulan cerita pendek Hanna Fransisca, Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina: 2012. 

Maka, jika bertolak dari kepercayaan Danarto tersebut, setidaknya dalam membaca cerita pendek, kita sebagai bagian dari sidang pembaca akan sepakat dengan persoalan gaya tutur. Seorang cerpenis memiliki gaya tutur yang berbeda-beda untuk menyusun sebuah kelengkapan cerita. 

Tak pelaknya akademisi sastra Maman. S Mahayana dalam bukunya Bermain Dengan Cerpen: Apresiasi dan kritik Cerpen Indonesia: 2006 mengatakan “setiap karya sastra mesti dilakukan secara khas dan unik, dunia imajinatif yang digambarkan dalam karya sastra tertentu. Ia mesti ditempatkan secara berbeda dari karya sastra lain. Setiap pengarang mempunyai pandangan, ideologi, sikap, persepsi, dan style yang berbeda dari pengarang lain.” 

Dengan demikian ini menegaskan kedatangan kumpulan cerita berjudul Sperma Airmata: 2012 yang ditulis oleh Tandi Skober, pula diterbitkan SkylArt Publisher, sebuah penerbit “indie” yang berada di Bandung. Dalam buku kumpulan cerita tersebut terdapat 22 judul yang berkisar seputar ruang gerak kultural dan narasi gugatan dalam sayup-sayup luka yang masih memberat. 

Sperma Airmata menjadi judul yang khas dalam buku ini, ada dua frasa yakni sperma dan airmata, mungkinkah ini penegasan frasa metaforik dari keseluruhan isi cerita dalam buku Tandi Skober itu? Meskipun sama-sama berwujud cair, namun “muncratanya” bisa berbeda. Dalam narasi pertama ada gugatan yang terus lekat: 

“Menjadi anak haram sejarah Indonesia di zaman yang gagap pada titik terjauh cuma bisa tiarap,” itu catatan pacar pertama saya, Mun, pada Oktober 1969. (hal 1). 

Paragraph pertama dalam cerita berjudul Sperma Airmata itu ternyata kabarkan kelam, penggunaan subjek saya (orang pertama) sebagai narrator membuat cerita terkesan sederhana atau meruang, berbeda dengan subjek kata “aku” misalnya, meskipun dalam setiap alur ceritanya berlompatan, berlarian menuju suasana yang getir. 

Tokoh Mun, menjadi semacam halusinasi yang terus terbayang, menjadi tokoh nyata dan imajiner dalam ruang cerita. “Mun? hmm, laut pun melipat ombak yang mabuk. Saya dan Mun bermandi dinding pasir Cirebon. Bergumul lumpur, bercahaya purnama yang telanjang. Nelayan menulis nasib dilembaran angin selatan. “ternyata Indoensia tercipta dari serpihan muram yang rapuh ketika Tuhan gagal ciptakan hantu pancasila.” (hal 2). 

Dalam narasi itu suasana yang bergerak dari ruang lokalitas pesisir Cirebon yang terkenang, sejumlah letupan dan gugatan menjadi penting dalam cerita tersebut. Harapan berkelindan dalam cerita ini “menjadi anak haram Indonesia kudu bisa mematikan hasrat. Tidak menjadi anak panah yang melesat dari busur risau yang rapuh.” (hal 4). 

Rekontruksi Peristiwa 
Tandi Skober, dalam kumpulan cerita ini seperti menyiratkan luka kultural yang diasumsikan kepada sejumlah tokoh yang hadir dalam ceritanya. Nuansa kebangsaan dalam gerak tuturan, pula ada beberapa tokoh yang menerima, sembari mencaki maki rentan waktu yang sudah lewat. Dalam Burung Nazar di Ujung Bendera 

“Indonesia, ini cerita saya tentang sesekor burung nazar. Tiap kali saya membuka jendela saat subuh, selalu saja saya lihat burung nazar di ujung tiang bendera yang melengkung. Mata tajam burung bangkai itu bagai pisau yang membedah ruang kerja saya.” (hal 19) 

Bagi Tandi Skober, luka itu mungkin dikabarkan dalam bentuk narasi. Sejumlah amatan yang tentu saja menyebabkan para tokoh ceritanya hanya bisa berharap, sesekali ingin menjahit luka itu, luka yang menganga di rahim Indonesia. Pada sisi lain, literasi Cirebon, Medan dan Indramayu hadir dalam cerita pendek itu, bahasa Cirebon terutama mengiringi sejumlah catatan suasana perjalanan yang telah dilalui Tandi. Ada sejumlah rentetan bahasa Cirebon dan Indramayu yang menjadi penting untuk dibaca. Benjing amenaging kela kali asat, ana eksor molor jor-joran, sumur murubi sagara, wong dawur dadi umbul-umbul, wong cilik tengak-tengul nydoti umbel, mila nyuwuna estu, supadi dadi negeri tan negeri, wis sigra rainira lurua turuk, nganggo amangku Dermayu. (Kelamin yang Kelam, hal 93) 

Selain mitologi dari Indramayu yang hadir disela-sela cerita. Kelebihan Tandi Skober terbentangnya pengetahuan mitologi yang ia ketahui memperkaya efek fiksi dan berkelindan dengan suasana hari ini, lekatnya imajinasi cerita mitos dikontekstualisasikan juga rekonstruksi peristiwa dalam buku ini. Seperti halnya cerita wayang. Berbeda halnya apabila dibandingkan dengan kumpulan novelnya yang berjudul Namaku Nairem:2012 yang juga berbarengan diterbitkan pada tahun ini. 

Suara Satire 
Membaca kumpual cerita ini, setidaknya narasi obrak-abrik yang dipakai Tandi Skober. Di usianya yang sudah “Aki” meminjam kata dalam cerita pendek Idrus, sebagai cerpenis sekaligus esais yang tulisannya selalu mencampur adukan nuansa imajinasi, parodi yang berujung pada suara satire. Terlebih dalam ihwal menulisnya, sangat sulit membedakan esai atau cerita pendeknya. Mungkin Tandi Skober hendak menolak mitos gaya tutur menulisnya itu, sejauh pembacaan cerita dalam 22 judul di buku ini, ada yang menekankan makna tekstual dan makna refenesialnya, Paul Ricoeur menyebutnya sebagai event-meaning dialectics atau dialektika makna-peristiwa. Sebuah cerpen harus mengandung peristiwa, karena kalau tidak dia akan berubah menjadi esei atau puisi. 

Meskipun demikian, nada kritik melayang di jalur narasi dan lompatan cerita. Maka di usia lansia Tandi Skober, bukan saja menghadirkan Soeharto atau SBY dalam ceritanya namun ia tengah mengobrak-abrik sejarah masa silam bangsa ini. Narasi itu, kian lekat dalam ingatan, menempel dalam realitas hingga pada batas tertentu, ada suara lain yang selalu bergemuruh, berkecamuk namun bergerak menuju alunan sayup. Ruang imajinasi dan memori personal yang saling silang. 

Menariknya ditengah suasana gemuruh, senyap-lenyap, Sperma Airmata hadir ditengah letupan galau. Dalam cerita Tandi Skober, gaya tutur itu menjadi khas dalam nuansa tema kritik sosial yang berbentuk parodi. Adakalanya kejujuran bagi Tandi sebagai tokoh aku dalam cerpen berjudul Cerpen Tandi yang Tidak Dimuat Dikoran: 

“Lihat saya Yudhoyono! Saya maklumatkan perlawanan metafisika! Saya adalah edan yang mengendap-endap di antara mesin-mesin raksasa peradaban dan rasionalitas ego yang gagap saya adalah edan yang terlempar pada kesunyian gulita. Terjerembab pada jaring-jaring kekuasaan.” (hal.119) 

Selain gugatan dan satire terhadap bangsa yang memuncratkan sperma airmata. Tandi sedang menawarkan estetika guyon dalam suasana di taman lansia, konon di taman lansia itu para “Aki” senang bermain-main dengan daya imajinasi yang bangka. 

Pungkit Wijaya, Bergiat di Forum Alternatif Sastra (FAS) Bandung 

Inferno (Neraka) - Dan Brown




KARYA SASTRA YANG NYARIS SEPERTI KITAB SUCI
Saladbowldetrois


"Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral."

Robert Langdon terbangun di sebuah rumah sakit di Florence dengan keadaan kepala berjahit dan amnesia cukup parah. Langdon kehilangan ingatan jangka pendeknya yang merupakan alasan mengapa ia bisa tiba di Florence dengan keadaan seperti itu.

Dalam keadaan cukup panik, Langdon juga dikejutkan dengan kenyataan bahwa dirinya juga dijadikan target oleh seorang pembunuh bayaran serta sepasukan lengkap berseragam hitam milik pemerintah. Dengan bantuan seorang dokter yang bernama Sienna, Langdon pun mengetahui bahwa dirinya membawa suatu benda yang menjadi kunci dari seluruh perjalanan anehnya ini.

Benda itu berbentuk stempel kuno yang memberikan sebuah petunjuk, dimana seluruh rangkaian kejadian ini berhubungan dengan salah satu mahakarya terhebat yang pernah diciptakan. Rangkaian puisi karya Dante Alighieri yang berjudul Inferno (neraka).

Tak jauh dari rumah sakit tempat Langdon dirawat, enam hari yang lalu ditemukan jasad seorang laki-laki yang disinyalir menjatuhkan dirinya dari puncak salah satu menara paling terkenal di Florence. Dan laki-laki tersebut merupakan salah satu klien terpenting dari sebuah organisasi paling rahasia di seluruh dunia, Konsorsium.

Lalu apa hubungan antara pemerintah denga organisasi tersebut? Dan bagaimana Langdon pada akhirnya mampu mengetahui arti dibalik semua petunjuk yang diberikan oleh stempel kuno tersebut?

Buku terbaru karya Dan Brown ini sekali lagi menawarkan penulisan yang sangat sangat sangat Dan Brown sekali. Semua alur,cara pengenalan tokoh-tokohnya, konflik yang ditawarkan hingga cara pemecahannya.

Bagi yang sudah pernah membaca The Da Vinci Code maupun Angel & Demon pasti akan mengetahui apa yang aku maksud dengan ‘khas’ Dan Brown tersebut. Sebenarnya hal ini cukup membuat agak sedikit bosan di awal, namun sekali lagi buku ini masih sangat menarik untuk diikuti.

(Apa mungkin aku bias ya? Hahahaha)
Inferno sendiri adalah bagian pertama dari mahakarya seorang penyair besar yang bernama Dante Alighieri yang berjudul The Divine Comedy (Komedi Ketuhanan). Sedangkan bagian kedua berjudulPurgatorio (Penebusan) dan bagian ketiga berjudu Paradiso (Surga).

Meskipun berjudul komedi, namun The Divine Comedy ini sama sekali bukan karya yang berisi lelucon.Komedi di sini lebih diartikan karena Dante menuliskannya dengan bahasa Italia modern atau lebih dikenal dengan bahasa rakyat.

Karena pada jaman itu, semua karya yang menggunakan bahasa modern akan dianggap kurang sopan atau dalam hal ini disebut sebagai bahasa kelas dua. Maka dari itu disebut sebagai bahasa komedi (lelucon) yang sering dipakai sehari-hari.

Namun justru dikarenakan bahasanya yang mudah dimengerti maka pesan-pesan yang disampaikan oleh buku ini menjadi sangat mudah terpatri di dalam benak setiap orang yang membacanya.

Bahkan menurut sejarahnya setelah buku ini terbit, Inferno menjadi semacam pengingat akan dosa yang harus dihindari. Dan dengan detail neraka versi Dante, banyak orang yang kemudian memilih untuk bertobat. Denga kata lain, buku ini lebih efektif mengajak orang untuk ke Gereja daripada Alkitab pada jaman itu.


The Divine Comedy ini konon katanya juga membuat Dante mendapatkan apresiasi yang mendalam dari berbagai macam seniman kelas atas. Bahkan pembuat patung David yang tersohor itu juga ikut menuliskan pendapatnya akan penyair tersebut.

Tidak pernah ada di dunia, orang yang lebih hebat daripada dia.
-Michelangelo

Dante hidup di Florence, Italia dari tahun 1265 sampai dengan tahun 1321. Kehidupan Dante sendiri sebenarnya sangat normal seperti layaknya orang kebanyakan, hingga pada akhirnya ia bertemu dengan seorang wanita bernama Beatrice Portinari yang menjadi cinta matinya seumur hidup dan inspirasi utamanya. Sayangnya cinta Dante bertepuk sebelah tangan karena Beatrice pada akhirnya menikah dengan pria lain.

Inferno adalah bab yang menceritakan perjalanan Dante ke sepuluh tingkat neraka. Dalam karyanya, Dante memakai tiga nama wanita, Virgil, Maria dan Beatrice. Dalam perjalanan ke neraka, Dante ditemani oleh Virgil. Sedangkan perjalanan penebusannya Dante di temani oleh Maria dan dalam perjalanan ke surga ia ditemani oleh Beatrice.

(Pas tau hal ini jujur aku mikir: oh ternyata Dante juga manusia, dia bisa galau, terbukti pas ke surga aja dia bayanginnya sama Beatrice. Ya semacam kata Fadli PADI: meskipun aku di surga… tetap ku tak bahagia, karena itu tanpamu… )

Interpretasi Inferno karya Dante ini kemudian dituangkan oleh salah satu seniman besar yang bernama Botticelli yang melukiskan bagaimana gambaran tingkatan neraka versi Dante. Lukisan yang terkenal dengan nama La Mappa dell’Inferno atau dalam bahasa Inggris disebut dengan: Map of Hell.

Map of Hell karya Botticelli ini digambarkan sebagai irisan-melintang di bumu denga lubang besar berbentuk corong yang kedalamannya tak terhingga. Lubang neraka ini dibagi menjadi teras-teras menurun dengan penderitaan yang semakin hebat. Setiap tingkat dihuni oleh masing-masing jenis pendosa yang tersiksa.

Adapun tingkatan dosa itu diambil dari mnemonik Latin yang diciptakan oleh Vatikan pada Abad Pertengahan untuk mengingatkan umat Kristiani pada Tujuh Dosa Besar. Disingkat dengan nama SALIGIA yang berarti Superbia (kesombongan), Avaritia (keserakahan), Luxuria (hawa nafsu),Invidia (kecemburuan), Gula (kerakusan), Ira (kemarahan) dan Acedia (kemalasan).

(Mungkin karena aku muslim, daripada gambaran Inferno ini buat aku lebih serem buku-saku-siksa-neraka-yang-dulu-terbit-jaman-tahun-90an-itu >_< dan dalam Islam, tujuh dosa besar ini juga termasuk dalam kategori dosa =_= semua agama itu pada hakikatnya selalu mengajak kearah yang benar ^^)

Seperti sebelumnya, kali ini Dan Brown juga mengajak pembacanya untuk menelusuri berbagai macam karya seni yang ada di dunia. Untuk Inferno kali ini, para pembaca akan diajak untuk berjalan-jalan dalam imajinasi di kota tua Florence, Venesia dan berakhir di Turki.

Yang pertama adalah Gerbang Porta Romana yang di jelaskan di Bab 20. Gerbang ini dibangun pada tahun 1320 dan pernah dijadikan sebagai tempat Bazar Kontrak atau Fiera dei Contratti. Dimana pada jaman itu para orang tua seringkali memaksa anak-anak perempuan mereka untuk kawin kontrak dan mendapatkan mas kawin yang tinggi.

Di dalam buku, gerbang ini merupakan tempat pertama dari pelarian Langdon bersama Dokter Sienna ketika dikejar oleh pembunuh bayaran.

Di bab 21, para pembaca akan bertemu dengan dengan lukisan karya seniman Vasari yang dibuat pada tahun 1563 dan tergantung di Palazzo Vecchio, Florence. Lukisan ini menyimpan misteri akan arti kata Cerca Trova (cari dan temukan) yang hanya bisa dilihat dengan memakai binocular(teropong). Kata-kata inilah yang menjadi inspirasi Langdon pertama kali akan misteri yang ia pecahkan.

Bab 27 akan banyak menceritakan tentang istana keluarga Medici. Keluarga bangsawan kaya raya yang berjaya hingga empat abad namun pada akhirnya harus mengangalami kebangkrutan di akhir tahun 1700 atau abad ke delapan belas.

Istana keluarga Medici menjadi tempat persembunyian Langdon ketika dikejar oleh para tentara berseragam hitam. Mulai dari Institut Seni, Boboli Garden dan pada akhirnya bersembunyi di gua buatan.

Bab 37 menceritakan tentang kunjungan Langdong ke Palazzo Vecchio. Memasuki The Hall of Five Hundred, berjalan terus ke arah Lo Studiolo untuk bisa melihat secara dekat muka asli Dante Alighieri yang tercetak dalam topeng kematiannya sendiri. Dengan menemukan topeng kematian Dante, pada akhirnya satu persatu misteri mulai terkuak.

Bab 51 akan mengajak pembaca ke dalam Museo Casa Di Dante kemudian berlanjut ke rumah suci Chiesa atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Dante yag terletak di Santa Margherita dei Cerchi.

Pada Bab 53 para pembaca akan bertemu dengan pusat spiritual kuno di Florence, yaitu Katedral Santa Maria del Fiore atau yang lebih dikenal dengan julukan Il Duomo.

Bab 72 pembaca akan bertemu dengan Basilika Santo Markus dengan keempat patung kuda perunggunya yang merupakan salah satu hasil dari jarahan saat perang salib berlangsung.

Disinilah pada akhirnya Langdon benar-benar memahami semua misteri yang dimaksud. petunjuk-petunjuk yang pada akhirnya membuat ia sadar bahwa terjadi kekeliruan dalam pemikirannya.

Kuda perunggu Santo Markus. Kalung leher yang dipakai oleh kuda disinyalir sebagai penyangga kepala Kuda yang sengaja di potong agar mudah di bawa di dalam kapal saat dibawa kembali ke Venesia

Kemudian perjalanan di lanjutkan ke negara tempat persimpangan timur dan barat berlangsung. Negara sekuler dimana semua kepercayaan barat dan timur bisa berdiri bersebelahan.

Perjalanan ke Istanbul, Turki yang pertama adalah melewati Blue Mosque, kemudian Hagia Sophiadan berhenti pada waduk kuno Yerebatan Sarayi (Istana yang Tenggelam).

Sama seperti buku terdahulunya, Dan Brown selalu berhasil menggabungkan apa yang menjadi issue yang sekarang lagi marak dibicarakan dengn hal-hal yang berkaitan dengan symbol dan sejarah. Membuat para pembacanya seakan-akan benar mempercayai bahwa apa yang tertulis di situ adalah benar adanya.

Saking tipisnya perbedaan antara fiksi dengan fakta yang disajikan, kita sebagai pembaca harus benar-benar jeli. Namun untuk buku Inferno kali ini perbedaanya masih bisa diketahui. Karena issue yang dibahas itu sangatlah bertolak belakang dengan karya sastra Dante yang menjadi patokan.

Buat aku pribadi, menghabiskan 639 halaman dalam lima hari itu termasuk cukup panjang. Kenapa? Karena ya seperti yang aku bilang di awal menurutku ini agak sedikit cukup bertele-tele. Ditambah dengan beberapa istilah yang membuat aku harus membacanya berulang-ulang baru bisa aku cerna.

Ya ditambah waktu kerja yang selalu sampai malam, jadi bacanya juga curi-curi waktu. Dari segi terjemahan menurutku ini bagus. Tidak membuat bingung dan bisa dibaca dengan mudah. Istilahnya tidak membuat orang berfikir untuk membaca versi aslinya karena bingung akan bahasa terjemahan yang dipakai.

Yang paling aku suka adalah di bagian akhirnya, dimana diselipkan banyak sekali pemikiran mengenai issue yang dibahas. Pembaca diajak untuk ikut lebih peka terhadap hal-hal disekitar terutama untuk daerah abu-abu kehidupan. Lalu mengenai teori penyangkalan serta hal-hal yang memang menjadi polemik tersendiri hingga saat ini dan dapat dijadikan sebagai sebuah renungan.

Mengenai teori apa yang dibahas atau konsep apa yang dipakai dalam buku ini sebenarnya aku pengen banget buat jelasin, tapi aku pikir itu akan menjadi spoiler yang tidak terbantah. Karena justru itu yang menjadi kunci dari misteri yang dibahas dalam buku ini, jadi lebih baik bila dibaca sendiri hehehe.

Yang pasti Dan Brown juga mengaitkan cerita ini dengan wabah hitam atau yang lebih dikenal dengan The Black Death. Wabah ini terjadi pada tahun 1348 ~ 1350 dan menewaskan 75 ~ 200 juta warga Eropa, atau sekitar hampir 60% populasi.

Seperti biasa, Brown juga tetap menyelipkan karakter Langdon yang memang diceritakan seorang Darwinian. Atau seseorang yang lebih meyakini fakta daripada sebuah keyakinan akan agama. Meskipun pekerjaan Langdon adalah seorang ahli simbol yang rata-rata selalu berkaitan dengan simbol keagamaan.

Dari sini banyak pembaca setia Brown yang secara tidak langsung meyakini bahwa Brown sebenarnya ingin menunjukkan sedikit pembangkangan terhadap Vatikan. Yang mana sudah ia lakukan semenjak jaman kontroversi akan sifat keilahian Yesus dalam buku The Da Vinci Code.

Kesimpulannya buku ini sangat direkomendasikan buat yang suka fiksi sejarah. Hanya saja aku berharap Dan Brown dikedepannya bisa membuat yang setara dengan The Da Vinci Code. Namun paling tidak dengan harga seratus dua puluh lima ribu aku bisa menutup buku dengan puas untuk kali ini.

Last, kutipan pembuka di atas adalah kunci dari seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi. Dimana jika di telaah lebih lanjut kalimat itu akan berbunyi:

Dalam masa berbahaya (krisis) tidak ada dosa yang lebih besar daripada tetap diam.